RADAR JOGJA – Rencana aktivitas tambang pasir besi di wilayah pesisir Kulonprogo mendapat penolakan dari para petani lahan pantai. Gabungan petani yang mengatasnamakan Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulonprogo itu memasang ratusan bendera dan spanduk penolakan.
Koordinator aksi Widodo mengatakan, dasar penolakan tersebut karena kehadiran tambang pasir besi di wilayah pesisir dapat merusak kesuburan tanah dan produktivitas lahan. Apalagi, lanjut dia, petani di wilayah pesisir Kulonprogo banyak menghasilkan panen cabai. Cabai dari petani pesisir Kulonprogo banyak dikirim ke Jakarta Medan, Surabaya, dan Bandung. Sebagian lahan juga digunakan untuk budidaya melon, semangka dan aneka jenis sayuran. “Di sini kami sebagai warga sudah sejahtera tanpa ada tambang,”kata Widodo Sabtu (2/4).
Widodo menyampaikan, spanduk penolakan tambang dipasang di sepanjang ruas jalan Daendels atau Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) Kulonprogo yang masuk wilayah Kulonprogo. Setidaknya total ada 500 spanduk yang dipasang warga secara swadaya.
Dijelaskan, aksi penolakan tambang tersebut juga menjadi rangkaian peringatan HUT PPLP ke-19. Peringatan tahun ini digelar lebih sederhana karena warga hanya melakukan doa bersama, tumpengan dan pemasangan spanduk. Menurut dia, ada 500 spanduk maupun bendera yang kita pasang dari banaran sampai di perbatasan Kawangwuni. “Tuntutan warga hanya satu batalkan tambang pasir besi dan tolak pendirian pabrik pasir besi di Kulonprogo,” tegasnya.
Sebagai informasi, rencana penambangan pasir besi dulu dilakukan oleh PT. Jogja Magasa Iron (JMI) yang merupakan konsorsium antara PT. Jogja magasa Mining (JMM) dengan PT. Indo Mines. Diketahui mereka telah mendirikan pilot project dan sampel pengolahan. (inu/pra)

Jogja Raya