RADAR JOGJA – Pertama menginjakkan kaki di Nusantara pada 2013, pria 26 tahun ini membawa serta warisan berharga tinggalan keluarganya. Ya, buku-buku puisi Persia dengan usia ratusan tahun.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Ditemui di rumahnya, pria yang masih berkebangsaan Afganistan ini tampak sangat berkonsentrasi. Menoreh warna pada sebuah kertas menggunakan kuas berukuran kecil. Pria ini bernama lengkap Amin Taasha.

Amin, sapaan akrabnya, mengaku sangat mengagumi puisi Persia. Khususnya puisi-puisi karya Khwaja Sham-s Din Muhammad Hafez-e Shirazi atau lebih dikenal dengan nama pena Hafez. Seorang penyair Persia yang hidup pada masa 1315-1390.

“Dia juga menulis buku tentang prediksi. Banyak juga tulisannya tentang zaman masa lalu yang cocok untuk zaman sekarang. Tapi puisinya sangat indah,” pujinya, kemudian diam sejenak untuk melanjutkan, “Membuat banyak berpikir.”

Untaian puisi yang dirangkai Hafez, membuat Amin merasa terhanyut dalam pikirannya. Lantaran acap kali, sebuah puisi membutuhkan waktu dan pengetahuan lebih untuk akhirnya dapat dimaknai. “Kadang puisi susah diterjemahkan, jadi saya baca (puisi Persia, Red) untuk diri saya sendiri,” ucapnya, kemudian tertawa.

Pria yang juga menerima beasiswa di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu mengaku menyerah. Lantaran seberapa pun dia coba menjelaskan sebuah keindahan dan pemaknaan yang diperoleh dari sebuah puisi Persia, dia tetap tidak dapat membaginya pada orang terdekat. Misalnya saja kepada istrinya.

“Istri saya orang Indonesia, dan setiap bahasa memiliki keindahannya sendiri. Belum tentu (mengerti), bisa dekat-dekat (pemahamannya, Red). Tapi untuk memiliki pemahaman yang sama, dengan Bahasa sebenarnya, beda (tidak bisa, Red). Sebanyak apa pun saya coba, saya tidak bisa menerjemahkan apa yang benar-benar dimaksud satu puisi,” sesalnya.

Untuk itu, Amin justru menoreh energi yang diperolehnya dari membaca puisi pada lembaran naskah puisi itu sendiri. Semacam mengembalikan interpretasi kepada sumber inspirasi. “Saya melukis menyesuaikan waktu dan suasana saat membuat. Tapi kadang hasil lukisan cocok dengan judul puisi,” cetusnya, tetap dengan Bahasa Indonesia yang terbata-bata.

Bukan main-main, naskah yang dilukisi oleh Amin bahkan naskah dengan usia lebih dari 100 tahun. Namun, pria yang gemar berjalan-jalan di alam terbuka ini mengaku tidak risau. Lantaran naskah yang dilukisinya merupakan naskah yang berjenis cetakan. “Ini ada banyak, keluaran tahun berapa tidak tahu. Tapi usianya sudah ratusan tahun. Ini sudah cetak, kalau cetak pasti ada banyak. Kalau tulisan tidak akan berani,” candanya.

Pria yang juga mengoleksi benda hidup yang diawetkan dalam buku tebal itu pun menyebut, ingin membacakan puisi untuk anak. Dia tetap menyimpan harap, dapat melanjutkan tradisi dari negara asalnya. Membaca puisi dan mengisahkan sejarah pada anggota keluarga yang lebih muda. Agar tidak terlepas dari sejarah.

“Kami memiliki tradisi literasi puisi yang kuat. Di mana dalam keluarga terdapat kebiasaan membaca puisi untuk anggota keluarga yang lebih muda. Ayah ke anak, kakak ke adik. Jadi semua keluarga tahu sejarah abad ke-14 dan 15,” bebernya. (laz)

Jogja Raya