RADAR JOGJA – Ada dugaan kuat kasus kredit dengan mengatasnamakan ratusan karyawan Transvision abal-abal alias fiktif, tak hanya menimpa Bank Jogja. Namun ada sejumlah bank lain yang kesandung kasus serupa.

Di luar Bank Jogja, ada enam bank yang ikut dibobol. Angkanya juga tidak main-main. Jauh lebih besar Rp 27,4 miliar yang diajukan ke Bank Jogja. Ada satu bank yang sampai menembus kredit senilai Rp 48 miliar.
“Bank itu ada yang punya pemerintah provinsi, BUMN, dan swasta,” ujar seorang penegak hukum kepada Radar Jogja Minggu (28/3).
Ditanya apakah bank itu milik pemerintah provinsi di kota ini, sumber itu hanya mantuk-mantuk sambil tersenyum. Dia membisiki perkara tersebut sudah dilaporkan ke kepolisian. Pelapornya pimpinan cabang yang berada di Jalan Magelang, Sleman. “Silakan dicek saja ke Ring Road Utara (Polda DIJ, Red),” katanya.
Modus dan pelaku yang terlibat mirip. Satu pelaku yang diduga terlibat adalah Farel. Dia menjadi bendahara Transvision Cabang Jogja saat mengajukan kredit ke Bank Jogja. Dia berperan bersama Pimpinan Cabang Transvision Jogja Klau Victor Apryanto.
Sedangkan kasus di Sleman, Farel menjadi manajer keuangan untuk Transvision Cabang Magelang. Pimpinan cabangnya disebut-sebut saat ini menjadi wakil rakyat di daerah Magelang. Dalam perkara Bank Jogja, Klau Victor dan Farel telah ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya ditahan Kejati DIJ di Rutan Kelas IIA Wirogunan, Jogja, sejak Kamis (25/3).
Sumber itu menambahkan, bank yang kesrempet kredit karyawan abal-abal juga dialami bank pelat merah lain. Sama-sama bank milik pemerintah daerah. “Tapi pemerintah provinsi di luar DIJ yang punya cabang di Jogja,” ungkapnya.
Kedua bank itu dulunya sama-sama memakai nama Bank Pembangunan Daerah. Sekarang menggunakan nama sesuai provinsinya. Satu bank diketahui berpusat di tetangga DIJ. Sedangkan bank satu lagi berada di kawasan timur Indonesia. Cabang bank itu berada di daerah Gondokusuman, Kota Jogja, dan Caturtunggal, Depok, Sleman.
Sedangkan bank milik BUMN berada di kawasan Sudirman, Jogja. Kini perkaranya tengah diusut tim intelejen Kejaksaan Tinggi DIJ. “Masih tahap pengumpulan data,” kata seorang sumber di lingkungan kejati.
Adapun bank swasta yang bernasib sama dialami satu bank BPR yang berpusat di daerah Bogem, Kalasan, Sleman. Di samping bank BPR swasta itu, ada juga bank BPR milik pemerintah kabupaten di kawasan Magelang yang dibobol. “Kalau ditotal semuanya ada tujuh bank. Tiga bank milik provinsi, dua bank BPR pemerintah daerah, satu bank BUMN, dan satu bank BPR swasta,” lanjut sumber itu.
Terpisah, Direktur Reserse dan Kriminal Umum (Reskrimum) Polda DIJ Kombes Pol Burkan Rudy Satria tidak membantah atau mengiyakan adanya laporan sebuah bank milik pemerintah provinsi ke lembaganya.
Perwira menengah asal Moyudan, Sleman, ini mengaku tidak begitu ingat dengan laporan kasus kredit karyawan fiktif tersebut. “Ora apal, coba saya cek laporannya dulu. Senin besok (hari ini, Red) datang saja ke kantor,” ungkap Burkan.
Lain halnya dengan pandangan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIJ Parjiman. Dia menghargai setiap upaya penegak hukum untuk menyelesaikan perkara kredit karyawan fiktif. Termasuk langkah Kejati DIJ menetapkan dan menahan dua tersangka dalam kasus Bank Jogja.
Terkait adanya enam bank lain yang kesandung perkara mirip Bank Jogja, Parjiman mengaku belum mendapatkan informasi. “OJK senantiasa meminta bank untuk menerapkan prinsip kehati-hatian dan penerapan governance dalam setiap transaksi bank,” jelasnya.
Pelaksana Tugas Kepala Seksi Penerangan dan Hukum Kejati DIJ Mohammad Fatin mengatakan, penyidikan perkara Bank Jogja terus berjalan. Soal adanya jumlah tersangka yang berkembang, ia tidak langsung menjawab. Dia secara diplomatis menjawab semua bergantung pada alat bukti. “Masih didalami,” kilah jaksa yang merayakan ulang tahun setiap 17 Januari ini. (kus/laz)

Jogja Raya