RADAR JOGJA – Iring-iringan goweser memasuki bantaran Sungai Opak Tujuh Bulan, Tamanmartani, Kalasan, Sleman, Minggu (28/3). Yang menjadi pusat perhatian di barisan paling akhir. Nama sepedanya Inku, pemiliknya Tularno. Sepeda dan desainnya unik, bahannya dari limbah kayu.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Ini bukan kali pertama Tularno, 42, keliling Jogja dengan sepeda uniknya. Warga yang tinggal di Padukuhan Sambimulyo, Dompyongan, Jogonalan, Klaten, ini hampir tiap Minggu gowes asyik bersama kedua temannya, Putro, 42, dan Pono, 51, warga Jogjakarta. Kini mereka menjadi pusat perhatian. Lantaran membawa sepeda unik beda pada umumnya.
“Sepeda ini saya desain dan buat sendiri. Bahannya dari limbah kayu nangka dan jati,” jelas Tularno alias Pusak di lokasi Minggu (28/3).
Roda depan sepeda itu menyerupai roda dokar ataupun kincir air. Berbahan kayu dan karet ban mobil. Diameter rodanya 120 cm. Tingginya sebahu orang dewasa. Jarak rodanya sejengkal dengan setangnya. Dilengkapi rem dan kring klakson. Sementara roda belakang berukuran lebih kecil, 18 cm. Roda belakang layaknya roda sepeda biasa, roda angin. Kendati begitu tak ada jeruji, melainkan polesan dari kayu.
Demikian juga bodi sepeda. Dibuat kayu yang sudah melengkung alami. Sudah dirapikan dan dipoles dengan cat anti rayap. “Mirip pernipeting,” sanggah Pono. Kendati begitu, cara menggowesnya, lokasi pedal dan rantai seperti sepeda pada umumnya.
Nah, di atas pedal itu terdapat kotak kecil yang bisa dibuka tutup. Isinya untuk menyimpan perkakas bengkel. Jika sewatu-waktu skrup sepeda kendor, bisa langsung dibenahi sendiri. Tak perlu pergi ke bengkel.
Pria dengan julukan Pusak ini menyebut, Inku singkatan dari “ini buatanku”. Produk sepeda yang dia buat dari limbah mebel usahanya. Selain “Inku” model ini, ada juga model layaknya sepeda lipat. “Ini bisa dibongkar pasang. Tapi tidak semua bisa mengerjakannya,” ungkapnya.
Pusak menerangkan, pembuatan sepeda ini memakan waktu dua bulan. Dibantu anak lelaki semata wayangnya. Pembuatannya dimulai dari roda. Terinspirasi dari kincir angin. Kemudian perlahan-lahan kerangka sepeda, lalu setang, terus komponen-komponen lain. Kayu-kayu itu ditautkan dengan skrup dan alat pengungkit lainnya.
Sepeda kayu ini cukup kuat. Sebab, meski limbah, kayunya berkualitas. Sehingga kokoh. Namun, kelemahannya, kayuhannya sedikit berat. Pedal yang dikayuh rodanya kecil. Sehingga tarikannya pendek.
Sepeda ini berhasil memukau pengunjung wisata Kali Opak Tujuh Bulan. Bahkan tak sedikit yang meminta foto dekat sepeda “Inku” tersebut. Pusak pun turut kebanjiran permintaan foto bersama sepeda khasnya itu. Tak sedikit yang memuji kreasinya. Ada pula yang menanyakan harganya.
Tawaran demi tawaran pun mulai bermunculan. Untuk sebuah sepeda itu, dia banderol dengan harga minimal Rp 25 juta. “Sudah ada yang nawar Rp 20 juta, belum saya lepas. Sebab desain dan kualitas kayunya mahal, jauh dari harga yang dibanderol,” ujarnya.
Ke depan, Pusak berencana menciptakan desain-desain baru. Dan memproduksi lebih banyak lagi jika ada permintaan.
Melalui sepeda unik dan hobinya menggowes dia akan mengenalkan sepedanya ke banyak orang. Caranya dengan menjalin persahabatan melalui gowes bareng. “Kami biasa ngumpul-ngumpul gowes bareng di Candi Plaosan lalu keliling Jogja,” tambah Putro. (laz)

Jogja Raya