RADAR JOGJA – Wisata alam menjadi pilihan masyarakat berlibur di tengah pandemi. Keunikan objek wisata Kampung Pitu, Nglanggeran, Patuk, bisa menjadi pilihan karena alam memberikan manfaat besar dengan risiko rendah terhadap kesehatan. Seperti apa?

GUNAWAN, Gunungkidul, Radar Jogja

Sekretaris Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Objek Wisata Nglanggeran Sugeng Handoko mengatakan, Kampung Pitu memiliki nilai-nilai kebudayaan dan historis cukup menarik. Salah satu keunikannya, kampung ini hanya boleh didiami tujuh kepala keluarga.

“Selain itu tidak diperbolehkan. Jika dilanggar, ada mitos yang ditakuti,” kata Sugeng Handoko Jumat (26/3). Dia menjelaskan, keunikan yang ada terus digarap. Bersama anggota juga terus berinovasi mengembangkan Kampung Pitu sebagai objek wisata.

Hanya diakui, di waktu sekarang ada penyesuaian seiring dengan penerapan protokol kesehatan (prokes). “Termasuk tarif masuk ke Kampung Pitu, kami pastikan terukur dan terjangkau,” ujarnya.

Menurut Sugeng, wisata alam sangat tepat jika diimbangi dengan aktivitas membangun kebugaran tubuh seperti yoga, hiking, dan menikmati agrowisata. Berlibur di alam juga bisa memberikan keleluasaan untuk menjaga jarak fisik dengan wisatawan lain.
“Bagi wisatawan yang ingin menguji ketangkasan atau adrenalin, bisa melintasi satu tebing ke tebing yang lain,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul Hary Sukmono menyambut baik program inovasi yang dilakukan pengelola Gunung Api Purba Nglanggeran. Dispar meyakini, Kampung Pitu bisa menambah keanekaragaman pilihan objek wisata bagi wisatawan.
“Kami mendukung inovasi ini sebagai daya tarik di objek wisata kawasan Gunung Api Purba Gunungkidul,” kata Hary.

Untuk diketahui, Kampung pitu terletak di sekitar puncak Gunung Api Purba Nglanggeran. Sampai sekarang masih memegang teguh kepercayaan agar tidak dihuni oleh lebih atau kurang 7 kepala keluarga. Sudah ada lima generasi tinggal di situ, tanpa mengubah adat istiadat turun temurun.

Jalan menuju kampung melewati cor blok tanjakan dan turunan cukup curam. Terhampat pemandangan persawahan dan rumah penduduk di sela batuan vulkanik jutaan tahun lalu. Beberapa tiang lampu baru, akan dipasang sehingga saat malam tiba tak lagi gelap gulita.

Kampung Pitu dilengkapi fasilitas rumah ibadah berupa musala yang dibangun tahun 2016. Dari puncak Kampung Pitu, pengunjung bisa menikmati pemandangan Kota Jogja dan sekitarnya seperti Klaten. Sarana istirahat juga ada, lengkap dengan toilet rumah bentuk limasan.

“Dari generasi pertama sampai saat ini, tidak ada penduduk dari luar daerah tinggal di sini,” kata Yatnorejo, tokoh Kampung Tujuh. (laz)

Gunungkidul