RADAR JOGJA – Salah satu konsekuensi penerapan kawasan tanpa merokok (KTR) adalah penyediaan Tempat Khusus Merokok (TKM). Di Malioboro saja, saat ini baru tersedia empat titik TKM. Di Taman Parkir Abu Bakar Ali, Mal Malioboro, Ramayana Mal, Pasar Beringharjo.

Sayangnya kapasitas TKM dinilai terlalu sempit. Bahkan yang berada di Pasar Beringharjo dinilai lokasinya terlalu jauh. Karena berada di lantai tiga pasar. Kondisi tersebut dikeluhkan para perokok yang biasa beraktivitas di sana. “Lokasinya terlalu jauh, di lantai tiga (pasar). Cari tempatnya malah wis ra kepengen ngrokok,” kata salah seorang PKL di sekitar Pasar Beringharjo, Wantono kepada Radar Jogja Kamis (25/3).

Beda lagi dengan seorang pegawai Mal Malioboro Suparmanto. Dia menyebut, fasilitas tempat duduk yang disediakan di TKM tidak sebanding dengan banyaknya perokok yang akan memanfaatkan. “Ya bagus, tapi kurang banyak (tempatnya) karena yang merokok lebih banyak,” katanya.

Terlebih saat momentum liburan, biasanya TKM sampai dipenuhi oleh pengunjung yang hendak merokok. Pun ia harus menunggu area merokok itu sedikit lengang karena harus bergantian. Sebab, fasilitas tempat duduk yang disediakan hanya muat untuk tiga orang saja. Karena masa pandemi, ada beberapa rambu tanda larangan untuk diduduki. “Kursinya kurang, kalau udah penuh ya nggak merokok, atau terpaksanya kadang cuma duduk di sekitarnya,” ujarnya yang menyebut saat istirahat atau waktu senggang bekerja selalu memanfaatkan TKM untuk merokok.

Selain itu, jika hujan turun TKM tersebut dinilai kurang nyaman lantaran atap yang menutup area tidak begitu mengkover semua area TKM. “Ya lihat situasi, kalau hujan dan penuh ya nggak merokok,” tandas laki-laki 45 tahun.

Sementara, seorang pebecak, Sutaryanto mengatakan hal senada bahawa menyambut baik keberadaan TKM dan pencanangan KTR di kawasan Malioboro. Sembari menunggu penumpang, biasa digunakan untuk berisitirahat dengan menyulutkan sebatang rokok. TKM yang ada sekitar ia mangkal itu yakni di Mal Malioboro sudah cukup representatif lokasinya. Sirkulasi udaranya pun sangat baik, karena di tempat yang terbuka dan banyak angin masuk.

Namun, masih ada kurangnya yakni sekitar pukul 10.00 ke atas terlalu panas. Dampaknya, jarang perokok yang memanfaatkan jam-jam tersebut. Biasnya kebanyakan menggunakannya hanya pada pagi dan malam hari. “Sebetulnya anginnya sudah bagus cuma duduknya panas,” tuturnya.

Adapun kebanyakan pengunjung yang merokok di TKM ialah dari kalangan tamu-tamu hotel, pengunjung, sopir, pegawai, hingga kondektur. Sebelum ada TKM, dikatakan perokok masih bebas merokok sembarangan di sekitar Malioboro. Begitu, dicanangkan KTR lebih tertib kala hendak merokok harus di TKM tersebut. “Ya ini bagus, biar di kawasan Malioboro tidak semrawut banyak yang merokok sembarangan,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja, Emma Rahmi Aryani mengatakan, keberadaan TKM menjadi bagian upaya agar perokok pasif atau orang lain yang menghirup asap dari perokok tidak terkena asapnya. Terlebih sangat berbahaya bagi Ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Pun bisa meningkatkan faktor risiko kanker. “Risiko asap rokok itu akan menempel di dinding antara 4-6 jam. Orang akan tetap menghirup udara dalam ruangan walaupun perokok sudah pergi,” katanya tentang pentingnya TKM pada area tempat yang terbuka. “Harapan kami semakin berkurang yang merokok dan wisatawan yang datang pun tidak merokok di KTR,” imbuhnya. (wia/pra)

Jogja Raya