RADAR JOGJA – Hampir seluruh pelaku bisnis, terutama yang berkecimpung di dunia pariwisata, terpukul akibat pandemi Covid-19. Membangun mindset wisatawan menjadi yang tersulit untuk menjual Kota Jogja di tengah pagebluk korona ini.

WINDA ATIKA IRA P, Jogja, Radar Jogja

Siapa sangka Jogja yang dikenal sebagai kota pariwisata tapi luput dari turunnya kunjungan wisatawan karena pandemi Covid-19 yang melanda seluruh negeri. Kunjungan tamu domestik maupun internasional mengalami drop sejak 24 Maret 2020. Beberapa tamu dari berbagai grup mulai membatalkan reservasi hotel.

“Banyak suka duka untuk menjual Kota Jogja ini selama masa pandemi,” kata Luthfiana Irmasari mewakili seller pada event Table Top Jogjavaganza 2021 Rabu (24/3).

Diakui, tidak terlalu sulit mempromosikan Kota Jogja sebelum pandemi, terutama untuk kancah domestik. Mayoritas pelancong domestik sudah sangat mengenal dengan wisata di Kota Jogja secara meluas. Tinggal dibutuhkan usaha untuk menjual Jogja ke kancah internasional. Sebab, kebanyakan turis ternyata belum begitu mengenal Kota Jogja. Yang dikenal baru sekadar wisata di Jogja, ya di Candi Borobudur.

“Kita perlu usaha dua kali lagi adanya pandemi ini. Bagaimana menjual Jogja ke domestik lagi supaya mau datang, tapi juga aman dan nyaman dikunjungi karena masih pandemi,” ujar Assistant Director of Sales The 101 Hotel Jogja.
Dibutuhkan waktu tidak sebentar untuk mempersiapkan upaya itu. Ketika sudah sejalan dengan adanya kebijakan Pemkot Jogja untuk menjamin keamanan dan kenyamanan tamu, maka dikeluarkan verifikasi protokol kesehatan (prokes) dan sertifikasi Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) dari pemerintah pusat untuk hotel dan restoran. Jalan menuju kebangkitan pariwisata semakin dimudahkan.

Ternyata tidak, lantaran muncul lagi kebijakan-kebijakan baru dari pemerintah yang memberatkan seperti aturan pembatasan-pembatasan maupun mengharuskan tamu membawa rapid/swab antigen. “Saat itu okupansi kami kembali drop lagi,” tandasnya.

Namun demikian, memasuki Maret 2021 okupansi hotel sudah mulai naik lagi sedikit demi sedikit, mencapai 70-80 persen. Terlebih saat akhir pekan, ada beberapa hotel mulai penuh. Mayoritas karena adanya kegiatan MICE, selain juga korporasi, famili yang staycation.

Kesulitan selama ini untuk menjual Kota Jogja ke kancah domestik saja di masa pandemi adalah membangun mindset wisatawan atau pelancong. Aturan-aturan yang mengikuti untuk bisa melakukan perjalanan terlalu rumit. Namun diakuinya itu adalah kebijakan untuk menjamin semuanya agar terhindar dari virus korona. “Tapi dari mereka kalau mendengar saja ada zona merah di wilayah tertentu dan dibatasi, otomatis langsung turun lagi okupansi. Sehingga mereka nggak mau lagi travelling,” jelasnya.

Perbedaannya, mempromosikan wisata di Kota Jogja selama pandemi harus lebih ditekankan pada sisi kesehatannya. Maka tamu akan merasa aman dan nyaman karena protokol kesehatan yang menyertainya, sehingga membuat aman dan nyaman pengunjung.

Terutama momentum Jogjavaganza 2021 ini targetnya tidak muluk-muluk, ingin membranding Kota Jogja sebagai kota yang ramah dan patuh terhadap prokes Covid-19 serta seluruh pelaku pariwisata sudah mendapatkan vaksin. Hotel dan restoran semuanya sudah sesuai prokes.

“Itu yang kami sampaikan pertama ke pelaku-pelaku pariwisata agar memberikan rasa aman lebih ketika buyer-buyer ini membawa tamunya ke Jogja. Karena Jogja banyak banget destinasi pariwisata, selain itu sebagai kota yang dituju untuk kulinernya,” terangnya.

Sementara, selaku buyer yang juga Direktur PT Semoga Hidup Anda Selamat (SHAS) Tour and Travel Sukabumi Tony Suntara mengatakan, biasanya membawa sampai 30 orang maksimal ke Jogja dalam satu bulan dua kali sebelum pandemi. Tetapi, satu tahun selama pandemi hanya bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan rombongan yang dibawa ialah goverment trip.

“Mudah-mudahan antara buyer dengan seller ini ada kerja sama dalam hal kita berkunjung ke Jogja lebih ditingkatkan. Saya mewakili travel agent dari Sukabumi, akan mensosialisasikan ke beberapa travel agent di sana untuk membawa rombongan atau grup ke Jogja,” katanya yang sudah dua kali mengikuti event seperti ini.

Diharapkan dengan momentum Jogjavaganza 2021 bisa membangkitkan dunia pariwisata yang sempat kontraksi akibat pandemi. Dan, memberikan promosi atau referensi destinasi wisata serta memberikan sebuah keyakinan kepada masyarakat domestik bahwa Jogja aman dan sehat dikunjungi.

Jogjavaganza 2021 #4 itu dilaksanakan dengan prokes yang ketat. Setiap meja seller biasa ditempati dua orang selama pandemi hanya satu orang saja. Table top mempertemukan 100 buyers dari seluruh Indonesia dengan 70 sellers. Ada hotel, destinasi wisata, oleh-oleh, batik dan lain-lain. Komposisinya 80 persen buyers dalam Pulau Jawa dan 20 persen dari luar Jawa.

“Target kami, ya bisa terjadi transaksi signifkan antara sellers dan buyers. Paling tidak menarik wisatawan domestik mau datang ke Jogja,” kata Ketua Panitia Jogjavaganza 2021 Edwin Ismedi Himna. (laz)

Jogja Raya