RADAR JOGJA – Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti menuturkan, skema pelaksanaan vaksinasi akan terus berubah. Cara ini untuk mendapatkan format yang ideal. Terutama dalam pemerataan penerima vaksin di kalangan masyarakat.

Skema yang masih dalam pembahasan berdasarkan data kartu keluarga (KK). Wacana ini mengemuka setelah evaluasi pelaksanaan vaksinasi sebelumnya. Dimana dalam satu keluarga tidak semua menerima vaksin.

“Jadi basisnya adalah KK. Misalnya, si A pegawai Pemda, jadi bukan si B, tetapi si A dan keluarganya yang mendapatkan vaksin. Tentunya yang memenuhi syarat, orang yang sehat terutama usia di atas 18 tahun,” jelasnya ditemui di Balai Kota Pemkot Jogja, Senin (22/3).

Haryadi menambahkan, skema ini, diyakini lebih efisien. Ini karena penerima vaksin lebih tersasar. Sehingga mampu menekan laju sebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Tak hanya dari lingkungan kerja tapi juga keluarga.
Haryadi menilai potensi sebaran di lingkungan keluarga sangatlah tinggi.

Terlebih jika anggota keluarga memiliki mobilitas tinggi. Bukan tak mungkin dapat menjadi sumber penularan saat pulang ke rumah.
“Ini baru Pemkot yang melakukan vaksinasi berbasis KK.

Misalnya, si A nih nanti istri dan anaknya sudah belum, kalau belum sekalian saja. Karena pada hakekatnya vaksinasi untuk semua warga masyarakat. Mohon ini dipahami,” tambahnya.

Terkait ketersediaan vaksin, Haryadi menjamin cukup. Namun apabila kurang, pihaknya akan terus berkoordinasi. Terutama kepada Pemprov DIJ hingga Kementerian Kesehatan.

Disatu sisi Haryadi menyadari jumlah vaksin masih terbatas. Itulah mengapa proses pemberian saat ini masih bertahap. Hanya saja dia meyakini perubahan skema tak akan menggangu proses vaksinasi secara umum.

“Memang kami berkejaran dengan stok vaksin. Tetapi kan pemerintah menjamin bahwa vaksiansi harus dilaksanakan. Jangan sampai ada yang iri, bapak sudah tapi ibu dan anak belum,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Emma Rahmi Aryani menuturkan, saat ini pihaknya masih menyimpan sekitar 30 ribu dosis vaksin. Setidaknya jumlah ini mencukupi untuk vaksinasi tahap kedua. Tepatnya yang menyasar para ASN dan para lanjut usia.

Pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinkes DIJ. Kaitannya adalah perbaruan data penerima vaksin dan jumlah vaksin tersisa. Setidaknya sebagai antisipasi agar tak terjadi kekosongan vaksin.

“Kami masih punya 30.000 dosis. Ini tiap dua minggu kami menginfokan ke provinsi (Dinkes DIJ). Jadi vaksin habis kami menginfokan, sebelum habis juga menginfokan. Karena untuk vaksin itu memang yang ada dihabiskan dulu, supaya tidak kadaluarsa,” katanya. (dwi/sky)

Jogja Raya