RADAR JOGJA – Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Emma Rahmi Aryani memastikan munculnya kerumunan saat vaksinasi ASN hanya sementara. Sebab, proses antre dan penyuntikan vaksin berjalan tertib . Walau begitu dia tetap mengevaluasi teknis pelaksanaan vaksinasi.

Antrean peserta vaksinasi terlihat mengular di jalan Balai Kota Pemkot Jogja, Senin pagi (22/3). Pesertanya adalah para ASN dan tenaga pendidik tingkat PAUD hingga SD di Kota Jogja. Tercatat setidaknya ada 11.232 orang yang terdaftar dalam vaksinasi kali ini.

“Saya kira kerumunan tetap ada tetapi kan ada jarak. Kalau orang banyak ya tidak kerumunan. Tetapi, kalau dia duduk dan ada jarak itu tidak kerumunan,” jelasnya ditemui di sela-sela vaksinasi.

Emma menegaskan, penerapan protokol kesehatan bersifat wajib. Setiap kursi diberi jarak satu orang. Selanjutnya mengikuti seluruh arahan dari petugas lapangan. Mulai dari mengantri, mendaftar hingga pemberian suntik vaksin.
“Terkadang paling lama di pendaftaran karena pakai internet. Kalau internet lancar maka semua lancar. Kadang memang harus menunggu karena data belum muncul,” katanya.

Dia menjelaskan, vaksinasi ini berlangsung selama 6 hari, vaksinasi terbagi dalam 2 shift. Setiap harinya, Dinkes Kota Jogja menargetkan 2.000 ASN dan tenaga pendidik menerima vaksin. Jumlah ini disesuaikan dengan ketersediaan vaksinator.

Dinkes Kota Jogja menerjunkan 10 tim dalam setiap sesinya. Setiap tim ditargetkan bisa memvaksin sebanyak 25 hingga 30 orang. Sementara dalam satu hari terbagi menjadi 2 shift penyuntikan vaksin. “Itu sudah kami hitung agar sesuai perkiraan. Di pasar Beringharjo kemarin malah 20 orang perjamnya,” ujarnya.

Dalam beberapa kasus data penerima vaksin belum terdaftar ke Kementerian Kesehatan. Sementara seluruh mekanisme telah diikuti hingga akhir. Alhasil pendaftaran terpaksa dilakukan secara manual.

Sementara untuk pelaksanaan vaksinasi kali ini, pihaknya mencoba efisiensi waktu. Dalam satu jam setidaknya bisa memvaksin 250 orang. Harapannya skema ini dapat merampungkan target penerima vaksin sebanyak 2.000 orang perhari. “Masalahnya juga kadang ada yang nyelonong, ada yang tidak sesuai jamnya. Harusnya memang sesuai jam undangannya,” katanya. (dwi/ila)

Jogja Raya