RADAR JOGJA – Arus mudik Hari Raya Idul Fitri 2021 diprediksi akan meningkat dari tahun sebelumnya. Pasalnya, di tahun ini pemerintah pusat mengizinkan masyarakat untuk melakukan mudik meski dengan beberapa catatan.

Menyambut arus mudik tahun ini, pelaku bisnis jasa transportasi darat pun meminta agar pemerintah bisa menyediakan layanan pemeriksaan skrining Covid-19 dengan harga terjangkau. Misalnya pemanfatan GeNose.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIJ Hantoro menuturkan, tak terjangkaunya harga layanan tes kesehatan membuat sebagian konsumen berpikir dua kali untuk bepergian ke luar daerah. Apalagi jika harus menggunakan syarat rapid antigen atau swab PCR. Bisa-bisa harga tes kesehatan itu lebih mahal ketimbang tiket perjalanan itu sendiri.

“Yang menggunakan jasa transportasi bus kan biasanya karyawan menengah ke bawah. Kalau sekarang menggunakan PCR, tiket busnya saja Rp 300 ribu, masak PCR-nya Rp 1,3 juta,” jelas Hantoro Minggu (21/3).

Ia pun mengusulkan agar pemerintah menyediakan layanan pemeriksaan GeNose di terminal-terminal. Sebab, layanan tarif tes dengan meniup kantong plastik buatan UGM itu jauh lebih murah dibandingkan layanan lainnya.
Layanan itu dianggap penting, terlebih saat musim mudik pada Lebaran mendatang, surat bebas korona menjadi salah satu persyaratan bagi masyarakat untuk melakukan perjalanan. “Kalau untuk GeNose kami mampu. Kalau PCR, jelas tidak mampu,” tambahnya.

Menurutnya, Pemprov DIJ telah berencana untuk mengadakan layanan GeNose di terminal tipe B atau terminal yang dikelola pemerintah daerah. Dia pun berharap agar hal itu dapat segera terealisasi. “Mudah-mudahan dari Kementerian Perhubungan juga akan diberikan fasilitas seperti itu di terminal tipe A,” paparnya.

Selain itu, GeNose juga diharapkan dapat ditempatkan di agen-agen travel. Agar layanan ini benar-benar dapat dijangkau masyarakat menengah ke bawah. “Masyarakat menengah ke bawah ini takut melakukan pergerakan karena takut membeli (layanan tes). Sebetulnya mereka ingin melakukan pergerakan dengan bus, karena lihat banyak orang pakai kendaraan pribadi,” katanya.

Hantoro pun meminta agar pemerintah tidak tebang pilih saat melakukan pemeriksaan kendaraan. Kendaraan umum dan pribadi harus mendapat perlakuan yang sama. “Harusnya kalau bikin aturan fair juga ke semua lapisan. Kalau tidak boleh masuk ke suatu kota, harus dicek benar meskipun pribadi ataupun kendaraan umum,” tambahnya.

Kabar akan digunakannya GeNose C19 di terminal membawa angin segar bagi sebagian orang. Ana Syarifah salah satunya. Mahasiswa asal Sumatera Selatan ini berharap layanan dengan tarif terjangkau seperti GeNose dapat disediakan di terminal-terminal.

Menurutnya, hingga saat ini penumpang bus tidak diwajibkan membawa surat negatif antigen. Dengan akan adanya GeNose di terminal, ia sedikit merasa lega. “GeNose kan lebih murah, jadinya saya juga merasa lebih aman dan tenang ketika bepergian atau nanti ketika mudik ke Palembang,” katanya. (kur/laz)

Jogja Raya