RADAR JOGJA – Tenong adalah piranti, alat, wadah dari bambu. Biasa digunakan untuk tempat makanan, tenong merupakan akulturasi budaya Tiongkok.
Dosen Pendidikan Teknik Boga, Fakultas Teknik UNY Kokom Komariah menjelaskan, tenong tidak hanya di Jawa. Melainkan menyebar di beberapa wilayah dengan nama berbeda. Untuk tenong yang digunakan sebagai wadah menjual makanan dan biasa disebut tenongan, di masa lalu adalah bentuk kerja sama antara orang Tionghoa dan pribumi.
Orang Tionghoa, kata Kokom, selalu memiliki standardisasi resep makanan yang terjaga dan bertahan lama. Sedangkan orang pribumi cenderung membuat makanan apa adanya dan menemukan standardisasi berbeda. Seperti adanya gudeg A, B dan C yang menemukan standar produk bagi konsumen.
“Jadi orang Tionghoa yang membuat makanan dan orang pribumi mengambil barang itu untuk manjajakan dengan tenongan,” kata Kokom yang juga Koordinator Prodi S2 Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Pascasarjana, Fakultas Teknik UNY, ini.

Kokom Komariah (Dosen Pendidikan Teknik Boga, FT UNY).(ISTIMEWA)

Tenong tidak hanya digunakan sebagai wadah menjual makanan. Ada berbagai macam bentuk tenongan dari yang berukuran kecil hingga besar. Mulai ditinggalkannya tenong, lanjut Kokom, karena perkembangan teknologi yang semakin meningkat. Seperti adanya kulkas yang membuat makanan bisa bertahan lama. Selain itu, adanya plastik yang lebih praktis dan tahan lama juga membuat tenong ditinggalkan.
Seingat dia, tenong juga digunakan sebagai penyimpan makanan. Dimodifikasi agar bisa digantung, sehingga makanan yang disimpan dalam tenong terhindar dari binatang. Meski terbuat dari bambu, tenong bisa digunakan dalam waktu yang lama untuk tempat makanan dan alat masak.
Untuk menjaga higenitas, tenong bisa dibersihkan dan disimpan dengan tepat. “Namun memang ketahanan tenong dibandingkan dengan plastik berbeda,” lanjutnya.
Saat ini, tenong bisa digunakan kembali untuk menarik wisatawan di bidang kuliner. Mengingat tenong adalah hand made dan memiliki nilai artistik. Tidak hanya menggunakan tenong yang berbentuk besar, penyajian makanan untuk seporsi makanan bisa juga memakai tenong ukuran kecil.
“Jadi konsepnya tidak lagi tenongan dengan bentuk besar. Seperti tenong yang disajikan untuk dimsum,” ungkap Kokom. (eno/laz)

Jogja Raya