RADAR JOGJA – Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengaku belum mengetahui secara detail perkembangan paparan kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Kampung Jogokariyan, Mantrijeron.

Ini karena pihak kampung khususnya pengurus masjid Jogokariyan memiliki Satgas Covid-19 sendiri. Sehingga penanganan cenderung dilakukan oleh internal.

Walau begitu dia tetap meminta pihak Kecamatan Mantrijeron terus mendampingi. Terutama pemantauan kesehatan oleh Puskemas Mantrijeron. Termasuk upaya tracing kontak erat dan tracking terhadap temuan kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

“Jogokariyan dari laporan temen-temen di wilayah belum selesai semua. Jadi ini memang masih diolah, terutama tentang sebaran domisilinya. Sampai sekarang data-datanya belum terselesaikan,” jelasnya ditemui di ruang kerjanya, Jumat (19/3).

Walau begitu Heroe telah mendapatkan data awal jumlah warga terpapar Covid-19. Diketahui muncul 35 kasus dari wilayah tersebut. Dengan catatan satu warga meninggal dunia saat akan mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Berdasarkan laporan, juga ada 15 warga yang masih menunggu hasil tes swab Polymerase Chain Reaction (PCR). Sementara untuk ke 35 warga mayoritas adalah pasien tanpa gejala. Sebanyak 4 pasien menjalani perawatan di rumah sakit. Diketahui ada catatan riwayat kesehatan sehingga memerlukan tindakan khusus.

“Kalau dari data sementara, 35 itu didominasi orang tanpa gejala (OTG). Ada 4 warga yang rawat inap di rumah sakit dan satu warga meninggal dunia. Jadi sekarang ada 3 yang masih di rumah sakit,” katanya.

Heroe tak bisa menjawab banyak terkait kasus awal. Selain belum adanya data secara lengkap juga munculnya kasus secara serempak. Sehingga tidak bisa diketahui siapa pembawa kasus awal hingga alur penularannya.

Pihaknya masih melakukan kroscek data tracing. Khususnya milik pengurus masjid Jogokariyan dengan milik Puskesmas Mantrijeron. Sehingga dapat ditemukan alur penularan Covid-19 di wilayah Kampung Jogokariyan.

“Makanya itu sedang dipetakan. Ini yang sedang kita croscek data-data mandiri dan data-data yang kami lakukan. Tapi memang masih belum jelas kapan, dimana, siapa yang memulai itu yang agak susah. Apalagi kasusnya juga banyak,” ujarnya.

Pihak pengurus masjid Jogokariyan sendiri telah melakukan tes rapid antigen kepada 100 orang. Terdiri dari jamaah maupun warga sekitar masjid Jogokariyan. Tindakan ini dilakukan setelah muncul kasus awal, Senin (15/3).

Heroe menambahkan, pasca temuan 35 kasus, warga diminta melakukan isolasi mandiri. Pihak pengurus masjid juga telah menyiapkan lokasi isolasi terpadu. Guna menampung warga yang kediamannya tidak ideal untuk isolasi mandiri.

Meski warga telah melakukan isolasi mandiri, namun Heroe memastikan fasilitas tetap siap. Berupa tempat isolasi terpadu di rusunawa Bener Tegalrejo. Termasuk sejumlah fasilitas penunjang medis bagi para pasien Covid-19.

“Shelter di Rusunawa Bener tetap kami siapkan untuk menampung warga. Tapi memang sudah berjalan bagus di kampung Jogokariyan. Termasuk suplemen obat dan logistik bagi warga yang isolasi mandiri disana,” tambahnya.(dwi/sky)

Jogja Raya