RADAR JOGJA – Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ memastikan bahwa pelaksanaan Vaksinasi bakal terus berlanjut. Termasuk saat memasuki bulan Ramadan.  Diketahui bahwa awal bulan Ramandan berlangsung medio April hingga medio Mei.

Kepala Dinkes DIJ Pembajoen Setyaningastutie menuturkan, ada penyesuaian kegiatan vaksinasi selama Ramadan. Penyuntikan dilakukan dalam jangka waktu yang berbeda. Pertimbangannya adalah kesiapan fisik para penerima vaksin maupun vaksinator.

“Kami upayakan vaksinasi tetap dilaksanakan tapi cuma memang berubah waktunya. Sesi dikurangi agar penerima vaksin dan vaksinator juga tidak kelelahan,” jelasnya ditemui di Komplek Kepatihan, Selasa (16/3).

Wacana skema saat ini adalah satu sesi penyuntikan pada pagi hari. Berlanjut kemudian setelah berbuka puasa. Sementara untuk siang hari dihindari agar kondisi fisik tidak lelah.

“Wacana awal seperti itu, pagi satu sesi saja lalu siang tidak ada. Baru lanjut sore setelah buka puasa. Tapi ini juga masih dibahas formatnya, masih belum final,” katanya.

Pembajoen menambahkan, terkait hukum vaksin selama bulan Ramadan, belum mendapat arahan. Hingga saat ini masih menunggu fatwa resmi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Khususnya apakah vaksin akan membatalkan puasa atau tidak.

Dia meminta masyarakat tak berspekulasi lebih awal. Pastinya pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Ini karena program vaksinasi merupakan arahan dari Kementerian Kesehatan.

“Cuma memang ada mungkin yang bilang boleh vaksin saat puasa, ada yang bilang tidak boleh. Kami lebih baik menunggu fatwa MUI saja biar aman buat semua,” tambahnya.

Beberapa wacana sempat mengemuka tentang vaksin selama bulan Ramadan. Bahkan Presiden Joko Widodo berkata vaksin akan berlangsung pada malam hari. Sementara untuk siang hari bisa dilakukan di daerah atau kepada warga non muslim.

Sosok Ulama senior HM Baharun juga memberikan pandangan terkait vaksin di bulan Ramadan. Pria yang juga menjabat Ketua Bidang Dakwah PP Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) memastikan vaksinasi tidak membatalkan puasa. Hanya makanan dan minuman yang secara sengaja masuk ke tubuh manusia.

“Vaksinasi seperti suntikan obat lainnya, tidak membatalkan puasa. Yang membatalkan puasa itu jika makanan, cairan atau obat-obatan lainnya masuk ke organ terbuka jasad manusia seperti mulut, lubang hidung, lubang telinga dan atau anus (dubur),” katanya.(dwi/sky)

Jogja Raya