RADAR JOGJA – Harga cabai rawit di Pasar Beringharjo Jogja pecah rekor tertinggi dengan tembus Rp 120 ribu per kilogram. Sebagai pusat pasar grosir, paling tinggi harga cabai hanya berkisar Rp 90 ribu-Rp 100 ribu.

Kabid Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja Riswanti mengatakan, dari pantauan di delapan pasar tradisional Kota Jogja, rata-rata harga cabai rawit mencapai Rp 120 ribu. Naiknya bertahap, dari mulai Rp 60 ribu, Rp 80 ribu, dan Rp 90 ribu.

Senin (15/3) berdasarkan pantauan lagi sudah tembus Rp 120 ribu. “Sebelumnya di Pasar Beringharjo belum penah mencapai Rp 120 ribu. Karena pasar Beringharjo grosir, ya kalaupun naik berkisar Rp 95 ribu- Rp 100 ribu,” katanya Senin (15/3).

Riswanti menjelaskan, pantauan yang dilakukan di beberapa toko modern harga cabai rawit mencapai Rp 150 ribu per kilogram. Dan, di warung-warung harga terpantau Rp 140 ribu per kilogram. Dengan kemahalan harga cabai rawit ini, sudah diprediksi pasar sejak awal Desember lalu.

“Kemahalan (cabai rawit) di bulan Januari, Februari sudah diprediksi pasar nanti di bulan itu, nggak banyak stok. Sehingga ketersediaan sangat sedikit. Tapi bukan berarti terus barangnya langka tidak. Memang harganya mahal, tidak semelimpah kalau masa panen biasanya,” ujarnya.

Diduga kebutuhan pasar akan cabai rawit yang relatif minim ini berangkat dari kekecewaan petani lokal. Petani yang kecewa lantaran pengalaman waktu masa panen lampau harga cabai rawit anjlok di masa-masa bulan ini. Maka, banyak petani yang sengaja tidak tanam cabai. “Sehingga, ketika masa periode panen kebutuhan cabai rawit sedikit sekali,” jelasnya.

Meski difaktori juga karena cuaca, hanya ketika masa panen di musim hujan pun beberapa waktu lalu kebutuhan cabai rawit masih melimpah. Sebab, para petani masih menanam. “Kami tanyakan ke beberapa pemasok di Beringharjo, itu karena beberapa petani banyak yang kecewa, harga cabai pada waktu panen sebelum periode ini sampai pada dibuang di jalan-jalan karena murah sekali. Jadi banyak petani kemudian tidak tanam cabai,” tandasnya. Ia menyebut pasokan cabai rawit di Pasar Beringharjo rata-rata dari Kabupaten Magelang, Kulonprogo, dan Sleman.

Dengan anjloknya harga cabai, kebanyakan para petani menjual ke distributor luar kota karena diklaim yang berani membeli dengan harga mahal. “Jadi cabai ini jalan-jalan dari Kulonprogo ke Jakarta, terus ke Jogja. Jadi kami akan menginisiasi untuk memangkas jalur distribusi seperti ini. Jadi Jogja bisa ambil langsung dari petani,” terangnya.

Pasalnya, menurut penuturan dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIJ, cabai tak masuk dalam kategori sembilan bahan pokok. Sehingga tidak bisa dilakukan operasi pasar, khususnya untuk cabai rawit. Intervensi Disdag hanya sebatas pantauan dan ketersediaan. “Ya, kalau kemahalan harga yang signifikan itu terkait beras, telur, atau daging, baru kita bisa gelar operasi pasar,” tambahnya.

Kepala Disdag Kota Jogja Yunianto Dwisutono menambahkan, ada kemungkinan dalam jangka waktu 1-2 bulan ini ada upaya untuk menggalakkan penanaman kembali cabai rawit. Di bulan Februari, Maret ini sudah ada intervensi dari Kabupaten Sleman dan Kulonprogo untuk penanaman.
Menurutnya, cabai memiliki masa tanam dua bulan yang sudah bisa dipanen dan dipetik. “Ketika sudah masuk masa panen, bisa 15 kali petik. Mungkin nanti bulan April sudah bisa dipetik,” tambahnya.

Jumirah, satu di antara pedagang cabai Pasar Beringharjo pun mengeluhkan sepinya pembeli sejak harga cabai rawit melonjak di angka Rp120 ribu per kilogram. Akibatnya, tidak berani menyimpan banyak stok. Karena stok yang biasa disediakan pun tidak habis. “Rata-rata yang datang cuma beli satu ons atau maksimal seperempat kilogram. Harganya naik, penjualannya juga otomatis jadi sulit sekarang,” keluhnya.

Selama ini ia mendapat pasokan cabai rawit dari daerah Magelang, Temanggung, dan Boyolali. Menurutnya, saat membeli ke pemasok sudah dengan harga tinggi. Kenaikan paling tinggi diakui terjadi setidaknya dalam kisaran tiga hari terakhir atau sejak Sabtu (13/3) lalu. “Kemarin sebenarnya juga sempat naik, tapi tidak semahal sekarang. Jadi, ini yang paling mahal. Sebelumnya itu Rp 60 ribu, Rp 70 ribu per kilogram,” tambahnya. (wia/laz)

Jogja Raya