RADAR JOGJA –Kundha Kabudayan atau Dinas Kebudayaan Kota Jogja menginisiasi kegiatan Sarasehan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI). Agenda ini bertujuan membangun komunikasi dalam rangka menciptakan persatuan dan iklim kondusif di Kota Jogja.

Kepala Kundha Kabudayan Kota Jogja Yetti Martanti mengatakan, Pemkot Jogja berkomitmen merangkul kelompok masyarakat penganut aliran kepercayaan yang ada di Kota Jogja. Sebagai wujud dari perlindungan terhadap kebebasan dalam menganut agama atau kepercayaan tertentu.

“Sarasehan ini dalam rangka membangun komunikasi dan silaturahmi di antara para penghayat kepercayaan,” katanya dalam sarasehan yang digelar di Hotel Jambuluwuk, Senin (15/3).

Yetti menjelaskan, tujuan yang baik tersebut dalam rangka mewujudkan sinergi untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Jogja menjadi lebih baik. Sehingga, akan tercipta kondusivitas lingkungan Kota Jogja berkaitan dengan keberadaan penganut aliran kepercayaan tersebut.

Kan ini banyak hal yang mereka lakukan, kaitannya dengan budaya spiritual yang merupakan tradisi yang berkembang luas di masyarakat,” ujarnya.

Mereka yang tergabung dalam paguyuban komunitas MLKI masih sangat memegang teguh adat tradisi dalam memaknai hubungan antara Tuhan dengan manusia, manusia dengan sesama dan manusia dengan alam sekitar. Nilai-nilai budaya seperti ini diklaim menjadi hal yang dilakukan masyarakat untuk memperkuat karakter dan jati diri atau identitas masyarakat di Kota Jogja itu sendiri.

Hal ini, kata dia, menjadi utama untuk kemudian mampu mengembangkan nilai-nilai budaya melalui mereka sebagai pemegang adat tradisi yang masih sangat kuat.

“Mereka adalah kontributor besar juga dalam rangka melestarikan dan mengembangkan buday. Ini yang kemudian kami fasilitasi setiap aktifitasnya supaya nanti program yang mereka laksanakan bisa selaras apa yang kami lakukan di pemkot,” jelasnya.

Mantan Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Jogja itu menambahkan, terkait keberadaan penghayat kepercayaan tersebut tentu akan selaras dengan kehidupan dalam melestarikan nilai-nilai budaya di Kota Jogja. Dengan begitu, eksistensi keberadaan mereka bisa diakui oleh masyarakat luas. Dan selaras dengan program pemkot terutama dalam pelestarian dan pengembangan budaya di Kota Jogja. Terlebih dengan keberadaan mereka, juga sudah diakui oleh negara.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi menambahkan, keberadaan MLKI sudah dijamin oleh Undang-Undang 1945 pasal 28 dan 29. Dalam aspek kebudayaan menjadi bagian dari kepercayaan yang diakui dan dilindungi pemerintah Indonesia. Pelaksanaan musyawarah daerah kali ini juga menjadi satu bagian dari pemkot agar para penganut aliran kepercayaan kota bisa terlayani dan menjalani aktivitas dangan baik.

Diharapkan, para penganut aliran kepercayaan di Jogja ini juga bisa menjadi bagian penting untuk ikut terlibat dalam proses penyiapan masyarakat dan Kota Jogja terutama menghadapi masa-masa genting.

“Semoga nanti bisa memberikan arah pencerahan yang bisa kita lalui bersama sehingga kita bisa muncul sebagai pemenang,” imbuhnya. (*/wia/pra)

Jogja Raya