RADAR JOGJA – Angka pengangguran terbuka di Kabupaten Sleman meningkat sebanyak 2,9 persen selama 2020. Pemkab Sleman terus memberikan sejumlah program pelatihan-pelatihan kreativitas hingga membuka peluang usaha mandiri.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Sleman Sutiasih menjelaskan, pengangguran terbuka merupakan angkatan kerja yang sama sekali tidak memiliki pekerjaan. Nah, angka ini meningkat menjadi 6,95 persen. Dari tahun sebelumnya sebesar 3,69 persen. “Data ini berdasarkan survei Disnaker melalui kalurahan,” ungkap Sutiasih di kantornya, Senin (15/3).

Kendati berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) angka pengangguran terbuka, meningkat hanya 1,1 persen. Pada 2020 angkanya sebesar 5,09 persen atau sebanyak 35.843 orang. Dibandingkan tahun sebelumnya, 2019, sebesar 3,98. “Sama-sama meningkat tapi nilainya lebih kecil. Sebab, data BPS menggunakan metode sampling, di tingkat kabupaten,” tutur Sutiasih.

Nah, penganguran terbuka yang paling menonjol berada di Kapanewon Depok. Sebab, jika dilihat dari kepadatan penduduk, kapanewon ini terbilang tinggi. Sedangkan lapangan pekerjaan yang tersedia minim. Meski banyak perusahaan ataupun industri di wilayah tersebut, saat pandemi terdampak. “Jangankan menerima karyawan. Rata-rata justru merumahkan,” katanya.

Sementara, angka pengangguran terkecil berada di Cangkringan. Sebab, kondisi geografis dimungkinkan dapat menjangkau lapangan kerja. Misalnya dengan berjualan atau menambang pasir.

Secara keseluruhan, jumlah pengangguran yang bekerja di perusahaan akibat pandemi per 2020 sebanyak 1.084 orang. 585 pekerja dirumahkan. Sedangkan 499 pekerja dilakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). “Data akan kami update lagi tahun ini. Agustus mendatang,” ujarnya. Dari jumlah tersebut, angka pengangguran tertinggi yakni, lulusan SLTA ataupun SMK.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo (KSP) mengatakan, upaya pemerintah dalam mengatasi angka pengangguran di tengah pandemi ini dengan memberikan program pelatihan melalui balai pelatihan kerja (BLK). Selain itu pelatihan kreativitas juga akan dilakukan sebagai daya dukung untuk menciptakan peluang kerja mandiri. Berwirausaha. Selanjutnya akan didorong menjadi usaha mikro kecil menengah (UMKM). “Semua UMKM akan diklasifikasikan. Kami berikan motivasi agar bergerak. Kalau belum, kami berikan bantuan untuk modal,” ungkapnya. Upaya lainnya, dengan adanya program padat karya yang menjangkau di 16 titik 2021 ini. (mel/pra)

Jogja Raya