RADAR JOGJA – Kabar duka datang dari keluarga Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS). Prof Dr (HC) Drs H Zarkowi Soejoeti, ayahanda HS meninggal dunia dalam usia 87 tahun

WINDA ATIKA IRA P, Jogja, Radar Jogja

Prof Zarkowi Soejoeti meninggal dunia sekitar pukul 09.00 di Rumah Sakit Jogja, Senin (15/3). Sebagai anak pertama, HS merasa kehilangan ayahandanya. Semasa hidup, selalu menjadi teladan bagi anak dan cucunya. Ketika di tengah kesibukannya sebagai pejabat dengan puncak karirnya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan Syiria.

“Pulang ke sini tentu beliau menjadi teladan bagi kami. Beliau orang yang sangat bersih di dalam menjalankan kepemerintahan. Kami sangat kehilangan, tapi kami melepas dengan ikhlas,” kata HS saat ditemui wartawan di kediaman Rumah Dinas Wali Kota Jogja, Senin (15/3).

Setelah pensiun dari jabatan Sekjen Departemen Agama di usia 60 tahun, almarhum yang kelahiran 5 April 1934 itu masih bersedia mengabdi dengan menjadi Dubes Indonesia untuk Arab Saudi periode 1997 hingga 1999 dan Dubes Indonesia untuk Syiria periode 2000-2003. Meski tidak mengetahui persis kiprahnya di Muhammadiyah, HS mengakui almarhum yang meninggalkan tujuh anak dan 10 cucu itu selalu mengemban amanah dengan baik semasa jabatannya.

Hal ini dijadikan inspirasi baginya untuk meneladani figur ayahanda. “Beliau selalu ingat bahwa jabatan itu adalah amanah. Bagaimana beliau berusaha memberikan manfaat atas amanah yang diembannya,” ujarnya dengan mata yang masih berkaca-kaca.

Selain menjadi dubes di Arab Saudi dan Syiria, semasa hidupnya almarhum juga pernah menjabat Dirjen Departemen Agama dan juga pernah menjadi rektor UIN Semarang. Prof Zarkkowi juga memiliki peran penting terhadap khasanah keislaman di Indonesia. Pernah aktif di PP Muhammadiyah hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta memberikan ceramah, pengajian, seminar di berbagi organisasi, lembaga, kelompok pengajian di Jakarta, Semarang, dan wilayah DIJ sejak 2003 hingga menjelang akhir hayat.

Ada tiga pesan yang ditinggalkan untuk menjadi pegangan hidup keluarga dari ayahnya itu. Pertama, menjadi manusia yang bermanfaat buat orang lain karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Kedua soal waktu, agar hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Ketiga, setiap ulang tahun selalu mengajarkan kepada anak-anaknya, diusahakan tidak menyebut selamat ulang tahun. Namun selamat memasuki usia dengan menyebut angka ulang tahun.

“Kemarin saya ulang tahun bulan Februari usia ke 57, beliau mengucap selamat memasuki tahun ke 57. Memasuki tahun itu berarti meninggalkan tahun lalu, perbaiki apa yang kurang, pandai bersyukur apa yang diberikan Allah,” jelasnya.

Di tengah usianya yang sudah 87 tahun, dikatakan HS, almarhum sebelum meninggal menderita sakit komplikasi. Dan juga karena faktor usianya yang sudah sepuh. “Semoga almarhum husnul khatimah, diterima semua amal kebaikannya, diampuni segala kekeliruannya dan diterima disisi Allah,” tambah HS. (laz)

Jogja Raya