RADAR JOGJA – Gelita ekonomi mulai nampak, salah satunya faktor adanya libur panjang Isra Miraj dan Nyepi. Ini menjadi angin segar, terutama industri pariwisata yang mengalami kontraksi selama pagebluk korona.

Ketua BPD Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Deddy Pranowo Eryono mengatakan, okupansi hotel selama libur ini mencapai 45 persen, khususnya sektor tengah sekitar kawasan Malioboro. Rata-rata dihitung se-DIJ untuk sektor timur, barat, utara, dan selatan baru mencapai 25-30 persen.

“Itu sudah menggeliat daripada tiga hari kemarin. Puncaknya hari Sabtu,” kata Deddy kepada Radar Jogja Minggu (14/3). Hanya, geliat ekonomi ini masih belum merata. Sektor tengah menjadi paling tinggi okupansinya selama empat hari Minggu .

Pada hari Kamis (11/3) dan Jumat (12/3) rata-rata okupansi 35 persen untuk sektor tengah. Sedangkan sektor timur, barat, utara, dan selatan 20-25 persen. Rata-rata okupansi yang terisi sampai kemarin yaitu dari hotel dan restoran berbintang hingga nonbintang.

“Kalau dibanding hari biasa ini menggeliat, kemarin kan hanya 15-20 persen saja. Ini sudah tertanda denyut nadi kehidupan, walaupun kenaikannya hanya 5-10 persen. Tapi sudah patut kami syukuri,” ujar Deddy yang menyebut kamar yang dioperasikan hanya 70 persen dari total kamar yang ada sesuai protokol kesehatan (prokes).

PHRI tidak mempersulit siapa pun tamu yang menginap. Setiap tamu yang datang dipersyaratkan membawa surat keterangan bebas Covid-19 atau menunjukkan sertifikat vaksin bagi yang sudah mendapat vaksin. Ada alternatif keterangan bebas Covid-19 yakni bisa rapid/swab antigen atau GeNose.
Namun, kebanyakan tamu membawa sertifikat vaksin, selain keterangan bebas Covid-19. “Kalau tidak membawa sertifikat vaksin, ya bisa pakai antigen atau GeNose. Kami tidak mempersulit orang mau menginap asal sesuai prokes,” jelasnya.

Menurutnya, okupansi kali ini cukup membaik dibandingkan libur-libur yang lain, termasuk libur Natal dan Tahun Baru. Paling tinggi tamu yang datang dari Jatim, Jabar, Jateng, dan DKI Jakarta.

Demikian pula hotel dan restoran yang beroperasi saat ini ada 200, baik bintang maupun nonbintang. Restoran kecil hingga besar. “ Harapan saya ini tetap bisa bertahan kondisi seperti ini walaupun tidak liburan. Karena MICE secara resmi sudah diizinkan asal sesuai prokes,” katanya.

Deddy meminta para wisatawan untuk tidak takut atau ragu datang ke Jogja, karena anggota pelaku pariwisata sudah tervaksin semua. Selain itu ada tiga hal yang sudah dipenuhi yakni verifikasi prokes oleh pemkot dan kabupaten serta sertifikasi CHSE. (wia/laz)

Jogja Raya