RADAR JOGJA – Masih mengandalkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Kota Jogja tak lepas dari persoalan sampah. Apalagi saat TPST Piyungan kembali ditutup. Sampah-sampah dibiarkan menumpuk di pinggir jalan.

Sebelumnya TPST Piyungan kembali tutup oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIJ selama dua hari, Rabu-Kamis (10-11/3). Lantaran jalan menuju dermaga ambles. Ditambah tuntutan warga sekitar, setelah adanya seorang warga yang jatuh di area dermaga. Ini adalah penutupan kedua tahun ini. Setelah pada awal Januari lalu.

Pantauan Radar Jogja, Rabu (10/3) beberapa titik Tempat Pembuangan Sementara (TPS) tidak ada aktifitas apapun untuk pembuangan. Hanya terlihat sampah yang tertampung di beberapa kontainer dan gerobak sampah yang mengantri. Dan beberapa titik depo skala kecil terjadi penumpukan sampah hingga meluber. Bahkan ada yang ditutup dengan spanduk tanda kapasitas depo telah penuh.

Salah satunya di Depo Lempuyangan, meski penumpukan sampah belum meluber hingga ke jalanan. Tetapi, sampah telah menutup akses bagi pengguna jalan di trotoar. Tidak hanya akses jalan yang terdampak, warung makan yang berada di seberang jalan juga terimbas. “Enggak nyaman lah kita kan jualan makanan, intinya pembeli juga berkurang,” kata seorang pemilik warung makan, Purwanti di Jalan Hayam Wuruk.

Purwanti menduga pelanggannya berkurang karena merasa tidak nyaman dengan adanya sampah yang meluber dan berjarak kurang lebih lima langkah dengan warung makannya. Bisa saja karena bau, atau dikhawatirkan ada lalat imbas dari sampah yang menumpuk tersebut. Biasanya pada jam tertentu sekitar pukul 14.00 makanan yang disajikan terjual habis dan tak tersisa. “Biasanya habis jam segini, sekarang masih banyak banget. Ya mungkin merasa bau dan kalau diencoki lalat,” ujar pedagang angkringan Bu Pur.

Dikatakan, penumpukan sampah terjadi baru satu hari kemarin. Sebelumnya, pembuangan sampah masih normal dilakukan oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja. Kondisi penumpukan ini dirasakan tak hanya kali ini saja. Berkali-kali manakala TPST Piyungan ditutup selalu berimbas yang sama. “Semoga segera ini (sampah) bisa diangkutlah biar pelanggan saya datang lagi. Kalau gak diangkut-angkut ya terpaksa kami tutup dulu, lha gak ada yang beli sampai laler wae akeh banget,” tandasnya.

Anggota Forum Pemantau Independen Kota Jogja, Baharuddin Kamba mendorong DLH agar segera mengangkut sampah yang menumpuk tersebut. Meskipun hanya ditaruh di truk untuk sementara waktu sambil menunggu TPST Piyungan dibuka. Menurutnya, penumpukan sampah akibat dari penutupan TPST Piyungan sudah sering terjadi. Namun hingga kini belum ada solusinya. Maka, ini diperlukan adanya koordinasi antarwilayah yaitu Kota Jogja, Sleman dan Bantul (Kartamantul) untuk mengatasi persoalan sampah. “Jika diperlukan adanya penambahan tempat untuk pembuangan sampah tapi lahan semakin sulit. Maka perlu ada komunikasi kepada warga yang menolak apabila lahan sekitar pemukiman dijadikan TPST,” katanya.

Terpisah Kepala DLH Kota Jogja, Sugeng Darmanto mengatakan rencananya TPST Piyungan Bantul akan dibuka pada hari ini (11/3). Dampak dari penutupan sehari itu sudah menghasilkam berat sampah sebanyak 360 ton. “Kalau dua hari sudah 720 ton. Tapi rencana besok (hari ini) dibuka,” katanya.
Anggota Komisi C DPRD Kota Jogja Hasan Widagdo pun menilai pengelolaan TPST Piyungan saat ini tak lebih baik dari sebelumnya. Saat masih dikelola oleh Sekber Kartamantul. Menurut dia, meski nama lokasinya terdapat pengolahan, sampah di TPST Piyungan hanya ditumpuk. “Selama ini yang diolah yang di mana juga belum jelas,” sindirnya.

Tapi Kota Jogja pun kesulitan jika harus membangun TPST tersendiri. Terutama soal ketersediaan lahan. Keberadaan bank sampah juga dinilainya belum efektif mengurangi volume sampah di Kota Jogja. Politisi PPP itu mencontohkan, dari 360 ton sampah per hari di Kota Jogja, hanya 260 ton yang terangkut ke TPST Piyungan. Sampah organik sebagian dibawa ke Rumah Kompos milik DLH Kota Jogja. “Yang dikelola bank sampah belum signifikan menurunkan volume sampah,” ungkapnya.

Karena itu, dia mengusulkan ada inovasi pengolahan sampah mandiri di tingkat masyarakat. Bisa berbasis kelurahan maupun kampung. Diakuinya, selama warga enggan mengolah sendiri sampahnya, dan mengandalkan TPST Piyungan, penumpukan sampah bisa kembali terulang. Terutama saat TPST Piyungan kembali ditutup. “Membangun fisik gampang, yang susah membangun karakter orangnya,” kata dia. (wia/pra)

Jogja Raya