RADAR JOGJA – Pertanian merupakan salah satu sektor unggulan di Bumi Projotamansari. Sektor ini terbukti tidak goyah oleh pandemi Covid-19. Bahkan mampu bertumbuh dan menjadi sektor pengganti. Ketika warga yang terdampak dan harus meninggalkan profesi akibat Covid-19.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul Isa Budi Hartomo pun mengungkapkan, sektor pertanian mengalami pertumbuhan pada 2020. Pencapaiannya 65 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. “Itu luar biasa. Kesimpulan sederhana saya, dalam situasi krisis, kita punya bumper namanya sektor pertanian,” ucapnya saat ditemui Radar Jogja Selasa (9/3).

Sektor pertanian tampak tenggelam sebelum adanya pandemi. Namun saat situasi kritis, pertanian justru tampil. Menunjukkan jika kebutuhan dasar manusia adalah pangan. “Mulo kui pertanian kudu diupokoro tenanan. Itu sudah terbukti. Menurut saya, itu penyelamatan luar biasa,” cetusnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Diperpautkan) Bantul Yus Warseno juga menangkap potensi itu. Karenanya, Diperpautkan berupaya mengajak masyarakat bercocok tanam sesuai potensi lahannya. “Hasilnya kami fasilitasi untuk lokomotif bisnis,” sebutnya.

Lokomotif bisnis diklaim dapat menstabilkan harga. Lantaran petani dapat menjual produknya dengan harga yang wajar dan tidak dipermainkan oleh tengkulak. Padahal, tengkulak atau pedagang lokal memiliki modal yang terbatas. “Lokomitif bisnis dapat memperlancar pemasaran dengan harga yang stabil dan tidak jatuh bangun, sehingga petani tetap mempertahankan eksistensinya,” ujarnya.

Untuk itu, Diperpautkan perlu berkolaborasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Selain menjalin kerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang yang sesuai. “Misal daerah memiliki bawang merah, nilai ekonomi tinggi, harganya bagus, hasilnya banyak. Supaya harga tetap stabil, kami link ke perusahan dan pemasaran secara lelang,” paparnya.

Oleh karena itu masyarakat tidak perlu khawatir untuk terjun menjadi petani. Terutama bagi generasi milenial. Diungkap pula, pemerintah pusat memiliki program bagi 1.000 pemuda untuk magang ke Jepang. “Sekarang ini gencar, pembentukan karang taruna tani, artinya taruna tani muda. Bahkan program dari pemerintah pusat ada 1.000 orang yang akan dimagangkan ke Jepang,” sebutnya.

Salah satu sosok muda yang menyadari potensi pertanian adalah Miftahul Abdul Rahman. Pria 30 tahun ini merupakan seorang sarjana hukum, namun memilih mengembangkan agroteknologi. Berawal dari kekhawatiran semakin langkanya profesi petani.

Namun, warga Padukuhan Bibis, Timbulharjo, Sewon, Bantul, ini menyebut petani masih awam dengan konsep marketing. Sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi tidak maksimal. “Jadi mau tidak mau, petani harus mulai belajar marketing pasar. Jual sendiri sesuai dengan harga pasar. Jangan mau dipermainkan tengkulak. Saya ya petani, ya saya jual sendiri,” tandasnya. (fat/laz)

Jogja Raya