RADAR JOGJA – Ada banyak faktor calon penerima vaksin Covid-19 tidak lolos pada meja skrining untuk lanjut tahap penyuntikan. Di antaranya, karena takut, stres, atau faktor kelelahan.

Salah seorang peserta yang enggan namanya dikorankan mengatakan, ia gagal divaksinasi karena tidak lolos pada meja skrining untuk pengecekan tekanan darah oleh petugas medis di Beteng Vredeburg. Undangan vaksin diterima untuk penyuntikan Sabtu (6/3). “Tapi tidak lolos karena tekanan darah tinggi,” ujar seorang pekerja publik kepada Radar Jogja.

Pada saat itu tekanan darahnya menunjukkan angka 180/136 MmHg. Sehingga tidak lolos penyuntikan vaksin korona, karena kriteria yang dapat divaksin di bawah 180/110 MmHg. Namun jarak 30 menit setelah pulang dari Beteng Vredeburg, tensi menunjukkan angka 130/100 MmHg. “Saya ukur lagi di K24 usai gagal vaksin, dan hasilnya seharusnya lolos vaksin,” ujarnya.

Selain dirinya ada beberapa orang lainnya yang gagal vaksin karena tidak lolos pada skrining pengecekan tekanan darah. Skrining penyakit tidak menular lainnya seperti gula darah dan kolestrol normal. Dikatakan, alat pengukur tekanan darah yang dilakukan setelah gagal vaksin itu menggunakan alat pengukur tekanan darah manual, bukan digital. “Sama keponakan saya mahasiswa FKMK UGM diukur dengan alat manual yang pakai air raksa, hasilnya sama dengan K24. Tensi 180 itu seharusnya nggliyeng, tapi saya nggak,” tandasnya.

Mengutip seorang dokter, kemungkinan alatnya tidak dikalibrasi dahulu. “Dan setiap habis mengukur 30 orang, alatnya direboot sebelum dipakai untuk mengukur lagi,” tambahnya.

Oleh sebab itu, dia harus penjadwalan ulang vaksinasi setelah tekanan darahnya normal. Selain ada riwayat penyakit darah tinggi dari orang tua, ia juga merasa kelelahan sebelum jadwal vaksinasi. Belum lagi pada saat di lokasi harus menunggu lama kurang lebih 30 menit untuk menunggu giliran diskrining. “Malamnya tidur tengah malam, kurang tidur. Karena bangun subuh nggak tidur lagi sampai saatnya vaksin itu pukul 12.00 siang,” jelasnya.

Senada diungkapkan rekan yang dalam satu rombongannya. Juga gagal divaksin karena tidak lolos pengecekan tekanan darah. Tekanan darahnya menunjukkan angka 190. Sedangkan setelah 30 menit pulang, saat dicek ulang di klinik menunjukkan angka 160. “Aku tensi di klinik lagi, normal,” katanya.

Meski demikian, dia juga merasa kurang tidur cukup malamnya sebelum jadwal vaksinasi. Malamnya masih melakukan pekerjaan kantor. Juga memiliki riwayat hipertensi, tetapi tidak sedang rutin terapi obat. “Lelah banget, tiap malam kerja. Dan, kayaknya memang lelah,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Emma Rahmi Aryani mengatakan, alat pengukur tekanan darah sudah dilakukan kalibrasi atau pengecekan dan pengaturan akurasi dari alat ukur itu. Bisa saja peserta merasa takut, stres, dan kelelahan. Sehingga tekanan darah menjukkan angka tidak normal. “Kalau alat tensi, ya rutin kami kalibrasi dari faskesnya masing-masing. Bisa saja karena takut disuntik atau kelelahan dan stres,” jabarnya.
Apakah benar salah seorang peserta yang gagal itu karena takut disuntik? “Saya malah antusias ikut vaksinasi,” jawabnya. (wia/laz)

Jogja Raya