RADAR JOGJA – Petromaks masuk Nusantara setelah tahun 1910. Hadirnya lampu penerangan ini menunjukkan jejaring global yang hadir lewat perdagangan ataupun gaya hidup. Di Nusantara, petromaks adalah wujud dari modernitas di eranya.

Dosen sejarah di UNY Rhoma Dwi Aria Yuliantri menjelaskan, ditemukannya jenis lampu petromaks di Nusantara lantaran aktivitas global dari impor lampu. Hal ini menjadikan dari satu wilayah geogarfis tertentu, memungkinkan ditemukan banyaknya jenis lampu.

Lampu, lanjutnya, adalah sebuah teknologi yang hadir sangat lama. Jenis-jenis lampu sendiri merupakan salah satu teknologi yang diproduksi sebagai salah satu benda yang mewakili zamannya. “Intepretasi atas zamannya,” jelas Rhoma kemarin (5/3).

Misalnya jenis lampu pada masa Yunani yang tidak didekorasi atau dihiasi. Sementara pada zaman Romawi, lampu didekorasi penuh dengan seni. Menariknya, lampu terkait dengan perdagangan dan industri dalam sistem pasar dengan jejaring luas, sebagaimana diulas dalam buku Anthony Reid.
Untuk lampu jenis petromaks, mampu bertahan sampai dekade setelah 1910. Bahkan sampai pada masa Indonesia merdeka. Dalam ingatan Rhoma, sekitar 1980, kakeknya selalu menyalakan lampu jenis petromaks menjelang malam hari.

Lampu jenis ini menggunakan bahan bakar minyak. Kemudian bola lampu seperti kertas sering diganti jika sudah berwarna cokelat kehitaman. “Kala itu, jenis petromaks menjadi salah satu alternatif sebagai alat penerangan, selain lampu-lampu lain yang hadir pada masa itu,” bebernya.

Saat ini kita sering menemukan jenis lampu-lampu petromaks di tempat tertentu seperti kafe. Selain memiliki nilai estetis, petromaks juga bisa menampilkan kesan tradisional.

Maraknya lampu jenis petromaks pada saat ini, lantaran adanya reproduksi kembali oleh perusahaan petromaks sekitar tahun 2014. Dengan memunculkan desain lampu yang lebih modern. Kemampuan menampilkan estetika dan sentuhan tradisional-modern, menjadikan jenis lampu petromak digandrungi kembali. (eno/laz)

Jogja Raya