RADAR JOGJA – Sepak bola Indonesia terus mengalami perkembangan. Belakangan, olahraga paling populer di jagat raya ini sudah tidak melulu identik dengan laki-laki saja. Banyak perempuan yang sudah mulai masuk dan menjalani profesi yang berkaitan dengan sepak bola.

Seperti yang dilakoni Cahyaratri Hari Kinasih. Wanita yang akrab disapa Aya, sempat menjadi salah satu fotografer PSIM Jogja. Profesi itu dijalani Aya, dari 2017 hingga 2019 yang lalu.

Aya mengaku sudah mencintai sepak bola sejak kecil. Tepatnya sejak SMA. Saat Aya semakin sering menyaksikan langsung PSIM berlaga di Mandala Krida maupun Sultan Agung, Bantul. Selain itu, sejak di bangku SMA, Aya juga sudah mulai menggeluti dunia fotografi.

Aya menceritakan bagaimana ia bisa masuk menjadi salah satu fotografer PSIM. Menurutnya, kala itu ia diajak beberapa teman yang sudah lebih dulu menjadi bagian dari tim media Laskar Mataram – julukan PSIM Jogja. “Waktu itu saya merasa konten media sosial PSIM juga belum maksimal.” kata Aya.

Selama kurang lebih dua tahun menjadi fotografer PSIM Jogja, Aya mengalami banyak hal. Mulai dari memotret ketika penggawa Laskar Mataram berlaga di kandang sendiri. Juga ketika mereka berlaga di kandang lawan.

Namun, ada satu momen yang tidak bisa dilupakan oleh Aya. Yakni laga antara Persik Kediri kontra PSIM Jogja, yang berlangsung di Stadion Brawijaya, Kediri pada 2 September 2019 yang lalu. Kebetulan laga itu berakhir rusuh. “Yang di Kediri itu memang gak bisa dilupain sih,” katanya.

Selama Pandemi Covid-19, kompetisi sepak bola di Indonesia praktis berhenti. Belakangan kompetisi itu baru akan dimulai lagi. Aya berharap pandemi ini bisa segera berlalu agar ia bisa kembali ke stadion dan menyaksikan PSIM kembali berlaga.

Saat ini, dia sedang melanjutkan studinya di level pascasarjana. Ia sedang memasuki semester kedua di jurusan kajian budaya, Universitas Sebelas Maret, Solo.

Ke depan, Aya punya beberapa rencana terkait kariernya. Termasuk untuk kemungkinan menjadi dosen. Namun, dara kelahiran 1997 itu menegaskan tidak akan meninggalkan dunia sepak bola dan fotografi. ”Itu sudah jadi hobi soalnya bagi saya,” tandas Aya. (kur/bah)

Jogja Raya