RADAR JOGJA – Sebelum pasokan listrik masuk ke pelosok Nusantara, petromaks menjadi sumber penerangan utama di rumah-rumah warga. Namun seiring zaman, alat penerangan lampu jadul itu mulai ditinggalkan.
Penjual Petromax Weni Y mengatakan, seiring pasokan listrik mulai menyinari Nusantara, petromaks hanya menjadi sumber penerangan cadangan. Bahkan kini dijadikan sebagai barang koleksi.

“Sekarang banyak yang nyari (petromaks), seperti rumah makan-rumah makan gitu. Ya, sekadar untuk koleksi atau pajangan saja,” kata Weni saat ditemui di tokonya, Jalan Brigjen Katamso, Jogja, Jumat (5/3).

Perempuan 65 tahun ini menjelaskan, petromaks sempat punya masa jaya ketika awal toko itu berdiri, sekitar tahun 1980-an sampai 1990-an. Dalam satu bulan paling cepat bisa menghabiskan 2-3 dosin petromaks dengan bahan bakar minyak tanah itu.

Memasuki era 2000-an kebutuhan petromaks mulai ditinggalkan masyarakat. Mulai jarang orang mencarinya. Sekalipun ada, hanya satu atau dua orang saja. “Kalau zaman dulu saya setok dua sampai tiga dosin untuk satu bulan. Sekarang satu dosin saja habisnya setengah tahun,” ujarnya.

Sebelum ada pasokan listrik, kebanyakan pembeli yang mencari biasanya dari warga yang memang membutuhkan untuk penerangan rumahnya. Selain juga dari kalangan pedagang untuk kebutuhan warung-warungnya. “Kalau sekarang paling yang masih butuh, kalau ada bencana atau orang mau ke naik gunung,” ungkapnya.

Meski saat ini ia sudah beralih menjual berbagai kebutuhan perlistrikan, tokonya tetap menjual petromaks. Dengan alasan, berjaga-jaga jika ada pelanggan yang membutuhkan, dikoleksi salah satunya.

Petromaks yang dijual itu dengan bahan bakar minyak tanah dan gas. Stok petromaks yang disediakan seadanya. Terlebih jika ada pembeli yang memesan, baru akan dipesankan di agen langganannya di Surabaya. “Kalau ada pesanan banyak, baru saya ambilkan ke agen. Rata-rata yang beli antara dua sampai tiga saja untuk dipajang,” jelasnya.

Petromaks dijual dengan harga Rp 250 ribu per unit. Ini beda dengan harga masa lalu yang dibanderol Rp 60 ribu saja. (wia/laz)

Jogja Raya