RADAR JOGJA- Kondisi pengemudi becak dan andong di kawasan Malioboro kini semakin berat.
Pasalnya, setelah satu tahun pandemi COVID-19, kondisi dirasa tidak semakin membaik.
Ketua Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY), Parmin mengatakan, pendapatan selama pandemi ini mengalami penurunan signifikan, tukang becak umumnya bergantung pada sektor pariwisata.
Padahal kondisi pariwisata di DIJ belum pulih.
“Sebanyak 99 persen itu tukang becak kan mengandalkan pariwisata, jadi ya sangat terdampak saat ini.
Padahal jumlah anggota kalau yang terdata di Dinas Perhubungan DIJ ada 1.700an, khusus Malioboro ada 300-an,”katanya Jumat  (4/3).
Parmin menambahkan, rata-rata penghasilan perhari tukang becak di kawasan Malioboro Rp70.000 per hari. Tapi kondisi saat ini mendapat Rp10.000 saja menurutnya sangat sulit.
Kalau kondisi libur panjang saja, tukang becak dapat menambah pendapatan. Dan untuk menutup kebutuhan sehari-hari, menurut beberapa tukang becak meminta bantuan mengemis dari orang-orang yang melintas di jalan.
“Ada beberapa ya memang kondisinya berat sekali. Ada yang ngamen, ada meminta bantuan, ada yang nyambi buruh, karena benar-benar tidak ada pemasukan, dan harus bayar hutang dan lain-lainnya,” katanya.
Ketua Paguyuban Kusir Andong DIJ  Purwanto menuturkan, kondisi saat ini sangat berat bagi kusir andong. Jika dulu rata-rata bisa mendapatkan Rp150.000 sehari, saat ini sangat sulit.
“Kalau sekarang minus malahan pendapatan.
Ada beberapa anggota juga beralih profesi, kalau ada keterampilan lain,”ujarnya.
Sebelum pandemi ada 474 anggota Paguyuban Kusir Andong DIJ.
Namun setelah pandemi di Oktober 2020 turun menjadi 385 anggota. “Sekarang belum cek lagi yang aktif berapa. Saat ini juga sulit untuk berharap bagaimana,” keluhnya. (sky)
Jogja Raya