RADAR JOGJA – Warga Kliran, Kisik, dan Jomboran, di Kalurahan Sendangagung, Minggir, menggelar doa bersama kelestarian alam, khususnya sungai. Acara dilakukan bersama lintas agama di pinggiran Sungai Progo, wilayah Kliran, Sendangagung,(4/3).

SEVTIA EKA NOVARITA, SLEMAN, Radar Jogja.

Salah seorang warga Kliran yang kerap disapa Pak M menjelaskan, doa bersama lintas agama baru kali pertama dilakukan. Bertujuan untuk meminta keselamatan dan terhindar dari musibah sungai, seperti banjir hingga tanah longsor.

Kondisi pinggiran Sungai Progo sendiri, lanjut Pak M, sudah mulai tergerus. Oleh karena itu, adanya doa bersama diharapkan mampu membuka hati dan pikiran masyarakat agar tetap bersama menjaga kelestarian alam. Adanya wacana akan dilakukannya penambangan di wilayah Sendangagung, bisa dibatalkan.

“Belum dilakukan penambangan, semoga tidak terjadi. Hanya saja sudah ada PT yang masuk. Jadi kemungkinan logis segera berhenti itu sudah tidak bisa,” beber Pak M.

Meski penambangan sempat meminta persetujuan masyarakat, mayoritas masyarakat menolak. Terlebih, sebelum dilakukan penambangan lingkungan di sekitar sungai sudah terjadi kerusakan. “Apalagi nanti saat ada penambangan,” ungkapnya.

Sementara itu, penyelenggara acara Sukardi Siratmaja menuturkan, cara spiritual dilakukan untuk bisa mematahkan atau menanggulangi perusakan alam. Terlebih, keprihatinan melihat rusaknya sungai karena ulah oknum tertentu.

Tidak hanya doa bersama, ia juga mengedukasi warga tentang pentingnya menjaga kelestarian sungai. “Agar tidak terjadi bencana longsor dan banjir,” lanjutnya.

Turut hadir dalam acara ini, anggota Komisi X DPR RI My Esti Wijayati. Menurutnya, sungai sebagai jalan peradaban harus dijaga kelestariannya. Sebanyak 200 bibit pohon akan ditanam di beberapa titik pinggiran sungai. “Tiga jenis pohon yang memang cocok untuk wilayah pinggiran sungai. Ini salah satu cara kami untuk menjaga lingkungan,” katanya.

Terkait wacana penambangan pasir di wilayah itu, Esti tidak menampik jika penambangan tidak diperbolehkan. Meski pertambangan adalah upaya dari pembangunan, harus ada batasannya. Jangan sampai pertambangan yang ada malah merusak lingkungan hidup. “Harus ada amdal yang jelas. Regulasi pertambangan dan pemberian izin, juga harus jelas,” ungkap Esti. (eno/laz)

Jogja Raya