RADAR JOGJA – Hujan lebat disertai angin kencang yang terjadi Rabu (3/3) mengakibatkan beberapa wilayah terdampak di Kota Jogja. Terbanyak di Kricak, Tegalrejo, di mana terdapat enam titik.

Lurah Kricak Mohammad Ikhwan Pribadi mengatakan, dari enam titik yang terdampak paling parah salah satunya Jalan Jambon, Jatimulyo. Jalan penghubung Kota Jogja dengan Kabupaten Sleman itu, gril drainasenya jebol. Akibatnya, lapisan aspal jalan terangkat. “Hal ini karena air tidak tertampung ke dalam saluran, sehingga membeludak lantaran debitnya terlalu tinggi,” katanya saat ditemui di Kantor Kelurahan Kricak, Kamis (4/4).

Pantauan Radar Jogja di lokasi, lapisan jalan yang terangkat itu berada di jalur dari arah Jalan Magelang menuju Sindu Kusuma Edupark (SKE). Aspal menggelembung cukup tinggi di tengah jalan. Pengendara menjadi terhambat saat melintas di simpang tiga itu, hingga terjadi macet panjang karena harus bergantian.

Sudah diberi tanda berupa tumpukan bambu syarat berhati-hati bagi pengendara saat melintas jalan. “Ini baru pertama sampai aspal ke angkat seperti itu. Sebelumnya hanya banjir-banjir biasa saja. Kemarin juga hujannya sangat lebat,” ujarnya.

Ikhwan menjelaskan, selain rusaknya Jalan Jambon, sekitar 30 rumah di tiga RT wilayah Kricak seperti RT 51, 52, dan 55 juga terdampak banjir dari air Sungai Buntung. Ini dikarenakan Jalan Jambon minim tempat resapan, sehingga debit air hujan langsung masuk ke sungai kecil dan meluap hingga wilayah Kricak.

Menurutnya, permasalahan banjir di Kricak bisa diatasi dan tidak perlu lagi terjadi jika saluran air di Jalan Jambon bisa dialirkan ke barat masuk Sungai Winongo. Bentuknya harus ada aliran pembuangan air ke barat atau masuk Sungai Winongo, sehingga sebelum air masuk Jalan Jambon bisa dibuang ke sungai.

“Selama ini ada (aliran pembuangan ke Sungai Winongo) tapi gagal proyek. Elevasinya nggak pas, kurang miring, sehingga airnya nggak mengalir ke barat tapi malah balik ke timur. Sudah lama dan sudah disampaikan berkali-kali. Kalau itu bisa teratasi dulu, di sini nggak akan ada banjir,” tandasnya.

Namun demikian, permasalahan itu tidak bisa diselesaikan Pemkot saja. Sebab, area jalan yang rusak sudah masuk wilayah perbatasan Kota Jogja dengan Sleman. Ini dibutuhkan kerja sama antarwilayah, termasuk provinsi agar wilayah kota tidak menjadi korban langganan banjir setiap tahun.

Terlebih yang kerap menjadi langganan banjir merupakan warganya. “Ini harus ditangani karena Jalan Jambon itu menjadi sumber dari semuanya. Kalau itu nggak diselesaikan, sampai kapan pun kami tetap kena banjir,” tambah Ikhwan.
Selain itu, bencana lain seperti talut longsor di Kricak Kidul RT 35 yang mengakibatkan sebuah rumah terancam longsor. Namun telah diatasi dengan bantuan dua lembar terpal ukuran 4×6 meter untuk mengamankan erosinya. Kemudian paket logistik, sandang, dan karung pasir untuk menutup longsoran sementara.

Terpisah, Kabid Sumber Daya Air dan Drainase, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja Ummi Akhsanti mengatakan, penanganan Jalan Jambon menjadi kewenangan Kota. Termasuk drainasenya yang berada tepat di titik aspal jalan yang terangkat itu berada di wilayah Kota Jogja. “Kami cek dulu nanti, meluapnya memang dari saluran yang di tengah saluran utama itu. Tapi kita harus masuk ngecek ke dalam,” katanya.

Sementara saat dilakukan pengecekan di lapangan kemarin saluran masih dipenuhi air dan pengecekan baru dari luar. Tim di lapangan menunggu air surut terlebih dulu, untuk masuk ke dalam saluran air. Diduga ada saluran air di bawah yang buntu hingga menyebabkan air meluap ke atas dan mengakibatkan gril drainase jebol serta aspal jalan terangkat.

“Setelah tahu penyebabnya, kami usahakan langsung penanganan. Kalau misalnya buntu, langsung diselesaikan. Tapi kalau memang kapasitas tidak cukup, coba nanti kami hitung ulang. Air yang meluap itu harusnya mengalir masuk Sungai Winongo. Bukan Sungai Buntung, karena itu sungai kecil,” tambahnya.

Dikatakan, sejarah penanganan Jalan Jambon berada di wilayah perbatasan Kota dan Sleman. Awalnya ada pelebaran jalan, dan pembebasan jalan menjadi kewenangan Sleman. Drainase dibangun oleh provinsi, kemudian Kota yang melakukan pengaspalan jalannya. Namun, kewenangan Jalan sudah menjadi tanggung jawab Kota. “Dari segi usia sebenarnya masih baru salurannya. Sekitar tahun 2015 atau 2016,” jabarnya yang menyebut ukuran saluran utama sekitar 1,5×1,5 meter. (wia/laz)

Jogja Raya