RADAR JOGJA – Berlokasi di Dusun Sombomerten, Padukuhan Demangan, Maguwoharjo, Depok, Sendang Sombomerti tampak terawat. Mata airnya jernih. Lingkungannya pun bersih. Terlihat asri. Siapa sangka di balik pesona Sendang Sombomerti ini ada secuil kisah menarik.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Sendang ini berlokasi di tengah perkampungan, namun di sudut kejauhan tampak gedung-gedung megah menjulang. Nampak seperti sebuah hotel. Tepat di timur sendang terdapat rumah-rumah penduduk. Lalu di sisi barat terhampar ladang persawahan dan kubangan kolam ikan tawar.

Untuk menuju sendang, harus menuruni tanjakan dengan kemiringan 80 derajat. Di bawah pepohonan besar setinggi 35 meter, di sanalah lokasinya. Tiga mata air bermuara. Suasana masih asri, bahkan terdengar merdu suara burung berkicauan.

“Burung-burung di sini dijaga agar tidak punah,” ungkap Ketua RW 21 Dusun Sombomerten Muhammad Nasir, Minggu (28/2). Ia menyebut, ada satu endemik burung di wilayah itu. Nasir tak mengetahui namanya, namun cirinya berwarna biru dan suka bersarang di tebing-tebing sekitar.

Untuk menjaga kelesatarian habitat di wilayah itu, maka warga setempat sepakat membuat aturan. Barang siapa yang menembak, mengambil, menangkap burung di wilayah tersebut, dikenakan denda. “Satu ekor didenda Rp 500 ribu,” ungkapnya.

Nasir lalu menunjuk dua pohon besar yang kabarnya telah berumur 1,5 abad. Pohon di sebelah selatan namanya pohon preh. Nah, yang sisi barat pohon randu alas. Ada pula pohon beringin, rerumpunan pohon bambu dan lain-lain. Ini, kata Nasir, sengaja dibiarkan untuk mempertahankan mata air di sendang tersebut.

Barang siapa menebang pohon di sekitar, sekalipun itu pemiliknya, maka sebelum menebang wajib menanam terlebih dahulu. Sehingga pepohonan tidak akan berkurang.

Dia menjelaskan, dua mata air sendang posisinya di sebelah utara. Alirannya cukup deras. Sumbernya dari Selokan Mataram. Ini jadi wahana pemandian yang juga dialirkan ke kolam-kolam budi daya ikan. Lalu, satu mata air berikutnya ada di sisi selatan. Dikembangkan menjadi tempat pemandian, dilengkapi kolam renang.

Konon, adanya sendang ini tak lepas dari cerita sejarah. Salah satu abdi dalem Keraton Jogja bernama Ki Demang, mengajak dua saudaranya, Kiai Puger dan Kiai Sombomerti ke lokasi sendang. Namun Ki Demang memilih tinggal di sebelah timur jalan, sekarang jadi Kampung Demangan. Lalu, Kiai Puger memilih tinggal di lokasi yang sekarang menjadi Kampung Pugeran.

“Di sinilah Kiai Sombomerti. Sarean (makam) ada di dekat sini. Di makam paling pojok,” ungkapnya seraya menunjuk arah lokasi. Konon di sekitar area pemandian juga terdapat batu-batu layaknya bangunan candi. Kendati begitu, warga belum menggali perihal itu.

Sudah setahun lebih, lokasi ini dijadikan destinasi wisata. Dikelola warga sekitar. Sumber air yang melimpah, menjadi berkah tersendiri bagi warga masyarakat sekitar. Selain berdampak pada nilai edukasi, juga menghidupkan perekonomian warga sekitar. “Alhamdulillah, kepedulian warga terhadap lingkungan dan kelestarian alam terbangun di kampung ini,” ungkapnya. (laz)

Jogja Raya