RADAR JOGJA – Fenomena hujan es melanda sejumlah wilayah di Kota Jogja maupun di Kabupaten Sleman. Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ melaporkan, hujan es di Kota Jogja, setidaknya terjadi di Jalan C Simanjuntak Terban, Jetis, dan Kotabaru. Sementara di Sleman berlangsung di Girikerto (Turi), Triharjo (Sleman), Tempel, dan kawasan UGM.

Pada musim tahun ini, hujan es baru terjadi kali pertama setelah kurun waktu puluhan tahun lalu. Ketua Kampung Tangguh Bencana (KTB) Kotabaru Darsam mengatakan, sebelum terjadi hujan es, sekitar pukul 13.00 berlangsung hujan lebat dan angin kencang. Setelah 10 menit kemudian disusul jatuhnya kerikil-kerikil es di titik di ilayah Kotabaru. “Hujan es sekitar 10 sampai 20 menit. Setelah itu cuaca terang, disusul hujan berikutnya nggak pakai butiran es lagi,” katanya Rabu (3/3).

Darsam menjelaskan, hujan es terjadi hampir merata di seputaran Kotabaru. Di antaranya kawasan Kompi, bantaran Kali Code, depan McDonald, kawasan Jalan Suroto, dan Kampus UKDW. Butiran es yang jatuh seukuran ujung kelingking sampai jempol tangan dan jempol kaki. “Yang paling kelihatan atap Silol Kafe sampai hampir rata butiran esnya,” ungkapnya.

Akibat fenomena ini, tidak ada dampak yang serius terjadi. Hanya sedikit terjadi kebocoran genting di wilayah Kompi. Namun langsung bisa diatasi oleh personel KTB. Selama kejadian, personel telah standby di posko yang tersebar di wilayah Kotabaru untuk saling melaporkan kejadian atau kondisi terkini yang perlu mendapatkan respons.

“Musim tahun ini baru yang pertama terjadi hujan es. Tahun-tahun lalu juga pernah terjadi hujan es, tapi tidak sebanyak kali ini butiran esnya,” jelas Darsam.

Di Kabupaten Sleman, hujan es kembali terjadi Kapanewon Turi dan Kapanewon Sleman. Panewu Turi Subagyo mengaku, hujan es kali ini terjadi di daerahnya sekitar pukul 13.00 Rabu (3/3). Hujan es itu memiliki ukuran yang lebih kecil dari hujan es sebelumnya. Hujan es disertai angin kencang itu merata di wilayahnya .

Warga Mlati Radita Dwi Anggraini, 37, juga merasakan kejatuhan butiran es saat ia berusaha menerobos hujan menuju rumah temannya di Tugu, Kota Jogja. Butiran es itu cukup besar. Hampir sebesar balok es yang biasa dicetak dan dimasukkan ke dalam kulkas.

“Lumayan lama tadi, setengah jam,” ungkap Radita saat dihubungi Radar Jogja Rabu (3/3). Hingga sampai rumah rumah temannya, hujan es masih terasa. Bahkan terdengar cukup keras jatuh mengenai genting.
Sebelumnya, perempuan yang akrab disapa Dita ini melihat fenomena iklim, di mana pukul 12.00 terasa terik. Menuju pukul 13.00, tiba-tiba langit gelap kemudian disertai angin kencang.

“Lama-lama kok ada es batunya,” ujar Dita, keheranan. Ia menyebut kejadian ini baru terjadi kemarin dan berlangsung sekitar pukul 13.30.
Forecaster Cuaca Stasiun Klimatologi Sleman Haryati menjelaskan, fenomena hujan es merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi. Fenonema ini disebut juga dengan istilah hail. Fenomena ini terjadi akibat adanya awan Cumulonimbus (Cb). Di mana salah satu proses pembentukannya melalui kondensasi uap air yang sangat dingin. Berada di atmosfer pada lapisan di atas titik beku (freezing level).

“Nah, awan yang tinggi puncaknya melebihi titik beku ini pada bagian atas, suhunya lebih rendah dari nol derajat Celcius. Sehingga awan tersebut mempunyai peluang sangat besar memproduksi es,” katanya.
Dia juga menjelaskan, indikasi terjadinya hujan lebat dan es disertai kilat/petir serta angin kencang, memiliki kecenderungan berdurasi singkat. Satu hari sebelumnya, udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah. “Ini diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat,” katanya.

Kemudian mulai pukul 10.00, terlihat tumbuh awan cumulus atau awan putih yang berlapis-lapis. Di antara awan tersebut, ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepi sangat jelas. Berwarna abu-abu, menjulang tinggi seperti bunga kol. Awan itu akan cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam yang dikenal dengan awan Cb (Cumulonimbus).

“Kemudian jika dicermati, pepohonan sekitar tempat kita berdiri ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat, selain itu udara terasa dingin. Nah, biasanya hujan yang pertama turun adalah hujan deras tiba-tiba. Apabila hujannya gerimis, maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas menuturkan, hujan es bermula dari saat udara hangat, lembab dan labil terjadi di permukaan bumi. Maka pengaruh pemanasan bumi yang intensif akibat radiasi matahari akan mengangkat massa udara itu ke atas atau atmosfer dan mengalami pendinginan. Setelah terjadi kondensasi, akan terbentuk titik-titik air yang terlihat sebagai awan Cumulonimbus (Cb).

Karena kuatnya energi dorongan ke atas saat terjadi proses konveksi, maka puncak awan sangat tinggi hingga mencapai freezing level. Freezing level tersebutlah yang membentuk kristal-kristal es dengan ukuran yang cukup besar. “Saat awan sudah masak dan tidak mampu menahan berat uap air, terjadi hujan lebat disertai es,” ungkapnya.

Reni mebambahkan, es yang turun akan bergesekan dengab udara. Sehingga mencair dan saat sampai di permukaan tanah, ukuran es akan lebih kecil. Hujan es saat ini masih berpotensi tinggi terjadi pada musim hujan dan pancaroba. (wia/eno/mel/laz)

Jogja Raya