RADAR JOGJA – Pakar Epidemiologi UGM Bayu Satria Wiratama menilai target pandemi Covid-19 bisa terkendali pada Agustus 2021 jadi hal yang sulit terealisasi. Penyebabnya adalah kurang optimalnya program 3T. Termasuk tak optimalnya gerakan 5M di kalangan masyarakat.

Program 3T sendiri terdiri dari testing, tracing, dan treatment. Sementara untuk 5M terdiri dari memakai masker, mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi. Seluruhnya belum dilaksanakan secara ketat.

“Targetnya tidak realistis. Dilihat dari upaya 5M dan 3T di Indonesia juga masih kurang bagus. Tingkat kesadaran untuk 5M belum tinggi, sementara pemerintah dalam menjalankan 3T juga belum maksimal,” jelasnya, Rabu (3/3).

Dia menyebutkan hanya bebeberapa daerah yang menunjukkan penanganan Covid-19 berjalan baik. Pengendalian Covid-19 bisa optimal di Jakarta, Jawa Barat, Jogjakarta, Jawa Timur dan Sumatera Barat. Sementara itu masih banyak daerah yang membutuhkan evaluasi.

Program vaksinasi, lanjutnya, bisa menjadi solusi untuk membentuk kekebalan komunitas atau herd imunity. Sayangnya untuk mencapai target optimal di Agustus 2021 masih terlampau jauh. Setidaknya diperlukan sekitar 180 juta orang diberikan vaksin.

“Untuk bisa mencapai angka itu baru bisa tercapai di akhir 2021 atau bahkan 2022. Disatu sisi program vaksinasi kita masih menemui banyak kendala mulai dari supply, distribusi, dan prioritas,” katanya.

Sementara kunci sederhana penanganan Covid-19 cukup dengan 3T dan 5M. Hanya saja perlu kesadaran tinggi dari masyarakat. Selain itu juga upaya pelacakan dan isolasi kasus secara maksimal oleh Gugus Tugas Covid-19 maupun pemerintah. “Sambil menunggu program vaksinasi berjalan, cara paling mudah adalah memperketat aksi 5M dan lebih meningkatkan kembali gerakan 3T,” ujarnya. (dwi/ila)

Jogja Raya