RADAR JOGJA – Menjadi reporter olahraga bukanlah cita-citanya. Tapi akhirnya Widayanto dikenal sebagai salah satu reporter RRI yang melaporkan jalannya pertandingan olahraga langsung dari venue. Kepada pendengar radio.

Lulusan SMK jurusan teknik mesin itu sedang berbincang dengan rekannya di dalam Gedung Serbaguna Gapensi Bantul. Mereka baru selesai main badminton. Beberapa kali pria setengah baya ini mengucap rasa tidak percaya saat Radar Jogja memintanya sebagai narasumber. Ya, dia terkenal lincah saat siaran langsung pandangan mata, khususnya saat pertandingan sepak bola.

“Saya itu keblasuk jadi reporter olahraga. (Karena kantornya RRI, Red) Kekurangan reporter olahraga,” sebut pria bernama lengkap Widayanto itu tertunduk malu Jumat (26/2). Perintah menjadi reporter kali pertama diperoleh pada tahun 2006. Saat pria dengan sapaan akrab Pak Wid itu berangkat reportase seorang diri. Seingatnya, meliput pertandingan voli antara Bantul vs Kota Jogja dalam Pekan Olahraga Daerah (Porda) DIJ.

Kala itu, gelanggang sangat penuh. Sementara reporter yang ditunjuk tidak datang. Padahal, Pak Wid ditugaskan sebagai tenaga pembantu yang menangani urusan teknis. “Itu pertama kali saya pilih (siaran, Red) yang putri, karena biasanya lebih cepat. Eh, malah lima game. Dari situ langsung dipercaya sebagai reporter khusus untuk siaran langsung pandangan mata. Reportase radio jadi rame. Padahal meng waton (cuma asal),” tawa warga Manding, Sabdodadi, Bantul, itu pecah.

Berangkat dari keberhasilan itu, Pak Wid kemudian dipercaya membawakan siaran langsung pandangan mata untuk pertandingan cabang olahraga (cabor) lain. Ia sangat diuntungkan dalam siaran langsung pandangan mata cabor sepak bola. Lantaran Pak Wid sangat gemar cabor ini. “Saya sepak bola memang suka. Terbantu karena itu. Asal mau siaran langsung, biasanya menggunakan pola, skema. Tapi, saat pertandingan berlangsung, silang, saya nggak pakai. Langsung saja. Data para pemain, kebetulan saya langsung nyantol,” jelasnya.

Kepiawaian Pak Wid dalam siaran langsung ternyata mendapat perhatian. Beberapa orang gadis bahkan kerap mengirim pesan singkat. “Ada kesan siaran langsung di Maguwoharjo. Saat itu hujan lebat, kalau di sana kan di luar (tribun tidak memiliki atap, Red). Penonton ada yang memayungi. Aduh, saya terima kasih sekali. Setelah kenalan sering SMS, isinya kasih support, kalau saya lagi liputan minta dikabari. Katanya mau ikut cewek-cewek waktu itu,” ujarnya tersipu.

Pengalaman berkesan lainnya, ketika Pak Wid diarak dari Kantor Gubernur Riau menuju Stadion Utama Riau. “Waktu ke sana kayak pahlawan, dikawal dari gubernuran ke stadion. Saya sampai nggak nyangka,” lanjut pria yang kini telah pensiun sebagai penyiar RRI itu berbangga. Namun ia juga kerap mendapat protes dari sang istri. Lantaran tidak pernah mengabadikan momen bersejarahnya. Sampai saat ini Pak Wid masih menerima permintaan siaran langsung pandangan mata. Bahkan, bukan hanya dari RRI Jogja saja. (fat/laz)

Jogja Raya