RADAR JOGJA – Potensi angin kencang dan gelombang tinggi dimungkinkan terjadi di sebagian wilayah Jogjakarta, khususnya pesisir selatan. Kondisi ini membuat sebagian besar nelayan di Kulonprogo memilih tidak melaut.

Sebagai diketahui pada Rabu (24/2) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis potensi cuaca buruk berupa hujan lebat dan gelombang tinggi di wilayah pantai selatan Jawa. Potensi cuaca buruk dimungkinkan terjadi 25 hingga 27 Februari 2021.

Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah V Pantai Glagah Aris Widiatmoko mengatakan, karena kondisi itu sebagian besar nelayan di Kulonprogo memilih tak melaut. Para nelayan diketahui libur melaut sejak Selasa (23/2).

Selain karena potensi gelombang tinggi, lanjut Aris, para nelayan di wilayah pantai Kulonprogo memilih tak melaut juga disebabkan karena kondisi tangkapan ikan juga sedang sedikit.

“Karena adanya potensi gelombang tinggi dan tangkapan sepi, sudah sejak selasa nelayan di Pantai Bugel, Glagah, Congot, dan Trisik memilih tak melaut,” terang Aris saat dikonfirmasi Kamis (25/2).

Meski banyak nelayan libur melaut, Aris mengungkapkan kondisi gelombang tinggi belum berpengaruh pada jumlah wisatawan di kawasan pesisir pantai. Jumlah wisatawan yang datang ke pantai wisata seperti Glagah dan Bugel, terbilang masih normal.

Untuk itu, ia mengimbau agar wisatawan yang datang ke pantai supaya tetap berhati-hati. Pihaknya juga telah menyiagakan personel guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. “Kami minta wisatawan yang datang ke pantai agar selalu waspada,” imbau Aris.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo Ariadi menanggapi adanya peringatan dini dari BMKG. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan seluruh kalurahan dan komunitas relawan kebencanaan di Kulonprogo untuk meningkatkan kewaspadaan.

BPBD Kulonprogo juga telah melakukan antisipasi terhadap cuaca ekstrem dengan memasang 17 early warning system (EWS) di wilayah yang rawan terhadap bencana tanah longsor. Dengan rincian, enam EWS dipasang di Kapanewon Samigaluh, empat EWS di Kapanewon Kokap, tiga EWS di Kapanewon Kalibawang dan satu EWS Kapanewon Pengasih.
“Seluruh EWS yang telah terpasang masih aktif. Kami juga masih menyimpan tiga EWS untuk dipasang jika diperlukan,” terang Ariadi. (inu/laz)

Jogja Raya