RADAR JOGJA РSedikitnya  151 ahli waris pasien Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang meninggal dunia gagal mendapatkan santunan sebesar Rp. 15 juta dari Kementetian Sosial RI . Kebijakan ini merupakan keputusan dari pemerintah pusat. Secara tegas pula berlaku bagi ahli waris pasien di Jogjakarta.

Awalnya, setiap ahli waris akan mendapatkan santunan Rp 15 juta, apabila meninggal dunia akibat Covid-19. Hal itu setelah keluarnya Surat Edaran Nomor 150/3.2/BS.01.02/02/2021 tentang Rekomendasi dan Usulan Santunan Ahli Waris Korban Meninggal Akibat Covid-19. Dijelaskan bahwa santunan telah dihentikan.

“Jadi 151 (ahli waris) yang kami usulkan semua tidak bisa terealisasi dengan keluarnya SE dari Kemensos. Kaitannya tidak ada alokasi anggaran untuk itu (santunan),” jelas Kepala Dinas Sosial DIJ Endang Patmintarsih dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (25/2).

Endang menambahkan, awalnya pemberian santunan menjadi program dari Kemensos. Tepatnya pasca terbitnya surat tentang pemberian santunan pada November 2020. Pasca turunnya surat, setiap kabupaten dan kota diminta untuk melakukan pendataan.

Memasuki Desember 2020, pihaknya berkoordinasi dengan jajaran Kabupaten dan Kota. Kaitannya adalah ahli waris pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Pasca pendataan pada awal Februari 2021 terkumpul usulan 151 ahli waris. Seluruh nama ini telah dikirimkan ke pemerintah pusat.

“Awal Februari semua terkumpul 151 ke pusat dan saya terlpon koordinasi langsung bahwa dokumen itu pasti diterima karena kita juga hati-hati janji sama masyarakat. Ternyata 20 (Februari) malam keluar SE itu,” tambahnya.

Pasca terbitnya SE baru, Endang langsung berkoordinasi kembali dengan Kabupaten dan Kota, Senin (22/2). Para Kepala Dinsos di setiap kabupaten dan kota agar mensosialisasikan surat edaran baru ini ke ahli waris. Berupa tidak adanya santunan bagi ahli waris pasien Covid-19.

Endang menjelaskan sejauh ini para ahli waris menerima keputusan ini. Penyebab penghentian santunan sendiri menurutnya lantaran anggaran tidak teralokasikan. Sehingga Kemensos sepakat untuk membatalkan kebijakan tersebut.

“Anggaran dialihkan ke covid dan sebagainya didahulukan untuk kesehatan. Mudah-mudahan semua bisa memahami,” ujarnya.

Walau begitu pihaknya telah menyiapkan skenario cadangan. Berupa pemberian santunan dari pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota. Hanya saja pihaknya belum bisa menjabarkan detil santunan.

Jajarannya tengah memperbarui data bantuan untuk sembako dan bansos tunai. Para ahli waris yang masuk dalam kategori membutuhkan seperti kurang mampu maka akan dimasukkan. Termasuk 151 ahli waris yang batal mendapatkan santunan.

“Bukan menindaklanjuti santunan tapi mungkin dengan bantuan lain misalnya ada sembako. Tapi saya mengecek dulu data itu sudah masuk apa belum,” katanya.

Walau begitu, Endang juga tak bisa berjanji terlalu banyak. Ini karena jenis santunan masih diusahakan. Sehingga pihaknya juga tak bisa menjanjikan. Selain itu bansos mungkin hanya bisa diberikan kepada yang tidak mampu.

“Tidak menjanjikan mengganti (santunan) itu tidak. Belum ada anggaran untuk itu. Tapi tetap kami usahakan jika memang ada anggarannya,” ujarnya.(dwi/sky)

Jogja Raya