RADAR JOGJA – Vaksinasi virus korona tahap kedua yang menyasar para pelayan publik di DIJ, mulai dipersiapkan. Saat ini Dinas Kesehatan DIJ maupun kabupaten dan kota sedang melakukan proses, di antaranya pendataan siapa saja yang berhak mendapatkan vaksin tahap kedua.

Menurut Kementrian Kesehatan, yang dimaksud pelayan publik, antara lain, pedagang pasar, guru, dan dosen. Kemudian ada tokoh dan penyuluh agama, TNI dan Polri. Ada pula atlet, wartawan, petugas Damkar, BPBD, BUMN, BUMD, BPJS, dan perangkat desa.

Ada pula para petugas transportasi publik, mulai sopir bus, petugas tiket, pilot, masinis, pramugari, petugas pelabuhan dan lain sebagainya. Termasuk pengemudi ojek online. Selain itu ASN, wakil rakyat dan pejabat pemerintah juga akan dimasukkan dalam vaksinasi tahap kedua ini.

Pada vaksinasi tahap kedua muncul kekhawatiran pada orang-orang yang memiliki ketakutan khusus atau fobia terhadap jarum suntik. Padahal orang pengidap ketakutan yang juga disebut Trypanophobia itu, jumlahnya tidak sedikit.

M. Huda misalnya. Salah seorang pekerja media di Jogjakarta itu mengaku memiliki ketakutan pada jarum suntik. Hal ini yang membuatnya agak cemas, apakah akan mengikuti proses vaksinasi atau tidak.

Huda mengakui, sejak kecil sudah takut terhadap jarum suntik. Bahkan dulu ketika ada imunisasi di sekolah, ia selalu menghindar. “Meski pada akhirnya harus diimunisasi juga karena dipaksa,” katanya sembari tertawa.

Sementara itu, dosen psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Supra Wimbarti menyatakan, pemaksaan yang dilakukan kepada orang yang mengidap fobia bisa membahayakan. Termasuk juga pada pengidap fobia jarum suntik. “Segala hal yang sifatnya pemaksaan, bisa menyebabkan ketakutan luar biasa. Sebaiknya ada cara edukasi dulu untuk mengurangi emosi takut,” jelasnya.

Supra Wimbarti juga menjelaskan fobia itu membuat pengidapnya merasa sangat tidak nyaman. Menurutnya, mereka yang memiliki fobia itu juga kebanyakan tidak tahu bagaimana cara menanggulanginya. (kur/laz)

Jogja Raya