RADAR JOGJA – Anggota Komisi V DPR RI Sukamto tampil dengan gaya yang santai. Mengenakan kaos berkerah warna coklat muda. Dia tampak memegang payung. Sesekali berjalan cepat. Dia menerobos hujan yang memasahi kawasan Selopamioro, Imogiri, Bantul.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

“Saya turun langsung ke lapangan guna memastikan penerima bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS) tepat sasaran. Dengan melihat langsung keadaan riil calon penerima BSPS,” ujar wakil rakyat dari Fraksi PKB DPR RI ini saat bertemu dengan masyarakat Dusun Kalidadap I, Selopamioro, Bantul, Jumat (19/2).

Sukamto sengaja blusukan ke Selopamioro karena tidak ingin melihat orang yang sebetulnya berhak menerima bantuan justru ditolak oleh tim survei dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Menurut saya, rumah ini tidak layak,” ujarnya seraya menunjuk salah satu rumah warga.

Diceritakan, sebelumnya Sukamto telah mengajukan sebanyak 25 kepala keluarga (KK) di Selopamioro menerima BSPS. Namun kemudian hanya ada 5 KK yang dinyatakan lolos. Sisanya sebanyak 9 KK ternyata telah menerima bantuan yang sama pada periode sebelumnya. Sedangkan satu bangunan diketahui sebagai gudang. Bukan tempat tinggal.

“Kenapa saya sampai turun sendiri, saya ingin mengerti dan melihat kenyataannya di lapangan. Kenapa ada yang tidak bisa diterima,” tutur anggota dewan dari Dapil DIJ ini.

Dari hasil blusukan Sukamto, sebagian rumah warga yang ditolak ternyata sangat layak menerima BSPS. Data lapangan yang diperolehnya ada rumah yang masih menggunakan anyaman bambu alias gedhek. Rumah tidak dilengkapi jendela. Tembok belum diplester dan lantainya masih tanah.
“Biarlah mereka mendapat bantuan Rp 20 juta per KK untuk memperbaiki rumah agar layak huni. Masak fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) nggak ada. Itu rumah nggak sehat,” ungkapnya.

Melihat itu, Sukamto bertekad berjuang agar beberapa warga yang layak menerima bantuan itu bisa dikabulkan. BSPS sangat membantu masyarakat. Diingatkan, bantuan seyogianya diberikan kepada mereka yang sangat membutuhkan. Warga termiskin seharusnya diprioritaskan.

“Saya tidak ingin, (ada pembedaan antara, Red) yang kenal atau tidak kenal, jadi tidak ada pengaruhnya. Pokoknya saya ingin mengajukan, orang dengan kategori paling miskin dapat bantuan. Inilah tujuan saya,” paparnya.
Salah seorang calon penerima BSPS, Riyanto bersyukur. Pria 50 tahun ini tinggal satu atap dengan keluarga anaknya. Artinya, rumah dengan ukuran 6 meter x 10 meter itu ditinggali oleh dua KK. Rumah Riyanto belum diplester dan tidak memiliki jendela. “Alhamdulillah dibantu sama negara. Selama ini keadaannya, MCK ada tapi tidak layak,” ucapnya.

Warga Kalidadap I RT 01 ini pun mengaku sangat ingin memperbaiki rumahnya. Namun dia yang hanya bekerja sebagai tukang batu tidak memiliki penghasilan tinggi. “Semua harus diperbaiki, tapi orang nggak punya, mau memperbaikinya bagaimana. Kadang bekerja sebagai tukang batu. Masa pandemi malah tidak ada kerjaan, jadi di rumah cuma cari rumput untuk makan ternak titipan,” ceritanya. (kus/laz)

Jogja Raya