RADAR JOGJA – Kepala Dinas Kesehatan DIJ Pembajoen Setyaningastutie membenarkan adanya tautan pendaftaran vaksinasi bagi lanjut usia. Tautan tersebut merupakan website resmi milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Berupa formulir pendaftaran vaksinasi bagi lansia di Jogjakarta.

Tautan formulir ini sendiri telah beredar di masyarakat. Tak hanya Jogjakarta, program secara total berlaku di 7 provinsi di Pulau Jawa dan Bali. Pihaknya masih terus berkoordinasi dengan Kemenkes selaku penanggungjawab program vaksinasi.

“Benar tautan formulir pendaftaran itu resmi milik Kemenkes. Formatnya Google Form itu resmi,” jelasnya, Jumat (19/2).

Rencananya para lansia akan menerima vaksin pada tahapan kedua. Tepatnya bersama dengan pelayan publik. Pihaknya masih terus berkoordinasi terkait jumlah lansia. Termasuk atas data lansia yang dimiliki oleh Pemprov DIJ.

Berdasarkan data dari Biro Tata Pemerintahan (Tapem) Setda DIJ jumlah lansia di Jogjakarta mencapai 594.632 jiwa. Detilnya lansia di Kota Jogja ada 57.870 jiwa, Sleman 157.238 jiwa, Gunungkidul 155.729 jiwa, Bantul 144.414 jiwa dan Kulonprogo 79.381 jiwa.

“Ya nanti menggunakan data Tapem tapi dengan skala prioritas. Sesuai petunjuk Kemenkes, diawali dari lansia di ibukota provinsi, ya berarti Kota Jogja. Baru setelahnya kabupaten yang lain menyusul,” katanya.

Dalam kesempatan ini Pembajoen juga menjelaskan skema pendaftaran. Walau telah beredar tautan formulir namun tetap ada secara offline. Metode ini dikhususkan bagi para lansia yang terhambat dalam pendaftaran online.

“Tetap dipikirkan metodenya, pastinya tidak akan merepotkan lansia. Untuk itu, jika ada yang tidak bisa mendaftar secara daring maka akan dilayani secara offline. Bisa dibantu di puskesmas dan dinkes wilayah setempat,” ujarnya.

Kepala Dinkes Kota Jogja Emma Rahmi memastikan pendataan lansia terus berjalan. Pihaknya juga melakukan screening kepada seluruh lansia. Kaitannya adalah adanya penyakit penyerta atau komorbid.

Itulah mengapa dari jumlah yang ada tak seluruhnya bisa mendapatkan vaksin. Pihaknya tak ingin pemberian vaksin menjadi gegabah. Terlebih calon penerima adalah para lansia.

“Lansia tetap di-screening. Siapa yang bisa mendapatkan vaksin atau tidak. Untuk pendataan dan screening kami melibatkan puskesmas-puskesmas di setiap wilayah,” katanya.(dwi/sky)

Jogja Raya