RADAR JOGJA – Memasuki puncak musim penghujan, masyarakat di Kabupaten Gunungkidul terutama didaerah rawan bencana diminta waspada. Kewaspadaan untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan.

Peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan warning bahaya banjir di wilayah Jawa, termasuk Provinsi DIJ. Potensi banjir diprediksi antara 18-19 Februari 2021.

Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Pengendalian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, Agus Wibowo mengatakan, wilayah berpotensi banjir zona utara. Meliputi Kapanewon Semin, Ngawen, Patuk, Wonosari, Playen, dan Panggang.

“Wilayah tersebut rawan banjir lantaran berada di jalur Sungai Oya. Sedangkan Wonosari berpotensi terjadi banjir genangan,” kata Agus Wibowo saat dihubungi Kamis (17/2).

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya mengimbau warga yang tinggal di daerah rawan bencana meningkatkan kewaspadaan. Banjir genangan, berdasarkan pengecekan di lapangan pemicunya akibat luweng atau lobang tanah tersumbat.
“Bersama dengan masyarakat dan pihak terkait melakukan kerja bakti kebersihan lingkungan luweng agar jangan sampai tersumber,” ujarnya.

Kemudian ancaman angin kencang berdasarkan pemetaan, semua kapanewon memiliki potensi sama. Dengan begitu, gerakan pemangkasan ranting pohon menjadi sangat mendesak dilakukan supaya tidak roboh ketika hujan.
“Banyak kejadian, pohon tumbang menimpa bangunan rumah, menutup akses jalan dan yang lain,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, banjir juga rawan di zona selatan. Seperti Kapanewon Purwosari, Saptosari, Semanu, Rongkop, hingga Kapanewon Girisubo. Lokasi tersebut tergolong dataran rendah, air mengalir dari perbukitan arah utara ke selatan bisa menyebabkan banjir.

“Koordinasi untuk antisipasi melibatkan kapanewon hingga kalurahan. Termasuk mengupayakan agar luweng (gua bawah tanah) bisa dimanfaatkan untuk menampung dan mengalirkan air,” kata Edy. (gun/bah)

Jogja Raya