RADAR JOGJA – Ada empat kemantren (kecamatan) di Kota Jogja yang memiliki potensi rawan banjir. Sebagai antisipasi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja rutin memantau debit air dari hulu.

Kepala BPBD Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan, empat kemantren itu meliputi Kemantren Tegalrejo, Gondokusuman, Danurejan, serta Gondomanan. Semua wilayah ini dilewati aliran Kali Code yang hulunya (Kali Boyong) di Merapi.

“Kalau masalah banjir, tentu yang dilewati sungai rawan semua, terutama Kali Code, karena kaitannya dengan Merapi. Biasanya lahar dingin itu lewat Kali Boyong, nanti arahnya ke Code. Berati semua kemantren yang dilewati Kali Code rawan banjir,” katanya Kamis (18/2).

Nur menjelaskan tidak hanya rawan terhandap bencana banjir. Begitu juga dengan longsor, kawasan yang memiliki tebing tinggi. Tanahnya tidak terlalu padat, juga menjadi rawan longsor. “Semua yang di pinggir sungai punya potensi longsor,” ujarnya.

Sebagai antisipasi, BPBD selalu memantau bancana yang dimungkinkan terjadi di titik rawan itu. Sebab, potensi dari lahar dingin Merapi yang kini masih mengeluarkan material. Bulan Februari masih musim La Nina yang menyebabkan curah hujan masih tinggi dan dimungkinkan terjadi lahar dingin di seputaran Kali Code.

Selain itu, Posko I di Ngentak, Sinduharjo, Sleman pun dijadikan ujung tombak untuk memantau debit air dari hulu. Dengan begitu, BPBD bisa mengirimkan laporan rutin kepada warga masyarakat yang berkediaman maupun beraktivitas di dekat aliran sungai di wilayah kota.

“Kalau kedalaman air di Pos I sudah 1,5 meter dari dasar sungai dan kota hujan, kemungkinan di sini (kota) sudah harus siaga. Pengertian siaga, ya warga sekitar harus segera evakuasi dari pinggir Sungai Code,” jelasnya.

Sampai saat ini juga sudah terpasang tujuh early warning system (EWS) di sepanjang aliran Code di wilayah Kota Jogja. Sehingga manakala muncul potensi banjir, maka BPBD langsung menginformasikan kepada warga secara realtime untuk menghindari jatuhnya korban.

“Pantauan titik rawan paling tinggi waktu hujan deras empat hari, sekitar dua minggu lalu. Itu baru satu meter, waktu tinggi-tingginya curah hujan kemarin. Jadi sampai sekarang bisa dibilang masih mandali (aman dan terkendali, Red),” jabarnya.

Pihaknya juga telah menyiapkan skenario penanganan kedaruratan, dengan terus berkoordinasi ke seluruh personel KTB di titik rawan banjir untuk mempersiapkan sarana dan prasarana. Termasuk lokasi evakuasi dan tempat pengungsian bagi warga masyarakat, mitigasi ini sudah disiapkan masing-masing KTB.

Tempat pengungsian, misalnya di Balai RW atau rumah warga yang cukup untuk menampung. “Kalau untuk anggaran dan sebagainya, sudah siap, kami akan hadirkan. Termasuk untuk rehabilitasi dan rekonstruksi, juga untuk antisipasi,” tambahnya. (wia/laz)

Jogja Raya