RADAR JOGJA- Pasar Prawirotaman kini menjadi pasar digital pertama di DIJ. Di samping miliki fasilitas yang menyerupai pusat perbelanjaan modern, transaksi digital juga tersedia di pasar tradisional ini.

Dibeberapa kios di pasar terlihat QR Code untuk transaksi digital. Pasca mengalami revitalisasi dan resmi beroperasi pada pertengahan Desember 2020, Pasar Prawirotaman telah menyediakan sistem transaksi digital bagi pedagang dan pembeli.

Sayangnya, banyak pedagangnya gagap teknologi (gaptek) sehingga belum bisa memanfaatkan teknologi digital untuk transaksi.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Jogja Yunianto Dwisutono menuturkan, saat ini ada 619 pedagang yang berjualan di Pasar Prawirotaman. Dan para pedagang ini kebanyakan merupakan generasi lama yang sedari awal telah berjualan, sejak pasar berdiri pada tahun 1980-an.

“Rata-rata sudah sepuh dan masih gagap teknologi. Jadi kendala kami mensosialisasikan digitalisasi pasar,” ujarnya Jumat (19/2).

Yunianto mengaku tidak akan menyerah untuk terus melakukan sosialisasi. Salah satu pendekatannya melalui saudara atau anak pemilik kios. Saudara atau anak yang lebih muda ini tentunya cenderung melek teknologi.

“Karena tidak susah, hanya bagaimana kesungguhannya. Mengubah mindset pedagang yang setiap pulang puas apabila membawa uang. Harus diberikan pemahaman-pemahaman serta sosialisasi sehingga perubahan ini bisa diterima,” katanya.

Wakil Walikota Jogja Heroe Purwadi mengatakan, banyak pedagang saat pulang dari pasar masih membutuhkan uang tunai.

Semisal ketika mereka menggunakan angkutan umum. Maka sarana penunjang transportasi publik seperti bus TransJogja juga perlu memakai uang digital. Termasuk saat pedagang pulang dan ingin membeli oleh-oleh untuk anak atau cucunya.

Belum tersedianya transaksi digital di semua toko di Jogja juga menjadi kendala untuk menyebarkan sistem ini. Menurut Heroe kedepan perlu integrasi transaksi digital di semua lini.

“Termasuk toko-toko, dengan kartu (berisi uang digital) ini, (mereka) bisa belanja di Pasar Prawirotaman dan juga di toko-toko manapun bisa,” katanya.

Heroe menambahkan, proses ini menurut dia tidak bisa instan. Perlu waktu bertahap untuk mengubah pola kebiasaan lama yang telah terbentuk bertahun-tahun. Terlebih para pedagang Pasar Prawirotaman, khususnya lantai satu sampai tiga, merupakan pedagang lama.

Berbeda dengan lantai empat Pasar Prawirotaman, sebagai fasilitas baru dan menyasar industri ekonomi kreatif, penggunaan transaksi digital tidak begitu susah. Para pengguna ruang ekonomi kreatif yang berisi co-working space, studio musik, dan lainnya kebanyakan anak muda.

“Di lantai empat karena pedagang baru, kami seleksi yang kira-kira cocok dengan brand yang akan kami kembangkan sebagai pasar digital,  ke depan lantai empat Pasar Prawirotaman bisa menjadi ruang kolaborasi. Dirinya juga berharap lokasi pasar yang dekat dengan ‘Kampung Internasional’ Prawirotaman bisa semakin meningkatkan potensinya.

Turis asing yang tinggal atau menginap di sekitar Prawirotaman diharap bisa menggunakan fasilitas yang ada di Pasar Prawirotaman, terutama lantai empat,  tidak perlu membawa alat karena kami telah menyediakan,” tambahnya. (sky)

Jogja Raya