RADAR JOGJA – Polres Bantul merilis tindak kriminal yang dilakukan sekelompok remaja. Mereka melakukan pembacokan terhadap Raka Yoga Pratama, 17, pada Minggu (31/1) sekitar pukul 03.00 dini hari di Jalan Samas, depan Pom Bensin Palbapang, Bantul. Motifnya, para remaja ini merasa ditantang korban via Instagram. Tapi, korban mengaku tidak pernah mengenal para pelaku.

Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistiyono mengungkap, pengeroyok dilakukan enam remaja. Mereka terdiri atas pelajar SMP dan SMK yang berboncengan dengan tiga sepeda motor jenis Scoopy. “Korban berboncengan dengan temannya usai mengisi bensin di Pom Bensin Palbapang, tiba-tiba dari arah selatan dihampiri tiga pengendara sepeda motor. Berboncengan dan membacok korban dengan senjata tajam. Mengenai pipi kanan, rahang, dan punggung,” ungkapnya dalam jumpa pers di Lobi Mapolres Bantul, Senin (15/2).

Sajam yang digunakan dalam pengeroyokan itu berupa celurit. Setelah melancarkan aksinya, kelompok remaja itu meninggalkan tempat kejadian perkara (TKP). “Tapi kendaraan pelaku ada yang tertinggal. Setelah dilakukan penyelidikan, akhirnya berhasil teridentifikasi enam orang. Empat dinyatakan tersangka, karena langsung melakukan tindak pidana kejadian tersebut,” ujarnya.

Penyelidikan melibatkan Unit II Satreskrim dan Tim Opsnal Polres Bantul yang dipimpin AKP Ngadi. Hingga pada Kamis (11/2) petugas berhasil mengamankan tiga pelaku pengeroyokan. Mereka adalah FNP, 17, pelajar SMK warga Pendowoharjo, Sewon; MZT, 17 pelajar SMK warga Pendowoharjo, Sewon, dan WN, 16, pelajar SMP warga Trimulyo, Jetis. “Dari penggeledahan di rumah WN, ditemukan satu buah sajam,” ucapnya.

Sementara tiga orang lagi atas nama Jonathan Malvian Anggoro Putra alias Jontor, 19, warga Purwokinanti, Pakualaman, Kota Jogja; Hersa Saputra, 18, warga Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul; dan Catur alias Dalijo, 19, warga Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, masih dalam pencarian. Pelaku MZT dan WN berperan sebagai eksekutor atau pelaku pembacokan terhadap korban.

Sementara FNP berperan sebagai pembonceng WN dan membuang dua sajam yang digunakan WN dan Jontor ke bawah jembatan. “Ketiga tersangka (yang diamankan petugas, Red) semua di bawah umur. Begitu kejadian, langsung disembunyikan di bawah jembatan. Kami cek sudah tidak ada,” bebernya.
Selain celurit yang ditemukan saat penggeledahan di rumah WN, petugas turut mengamankan dua sepeda motor dan pakaian yang digunakan pelaku. Akibat ulahnya itu, para pelaku disangkakan Pasal 170 ayat (2) ke-1 dan/atau 351 Jo 55 KUHP.

Secara bersama-sama di muka umum melakukan kekerasan terhadap orang atau barang (pengeroyokan) dan/atau penganiayaan junto turut serta dihukum penjara paling lama tujuh tahun. “Tapi karena pelaku di bawah umur dilakukan sistem UU Peradilan Anak,” cetusnya. (fat/laz)

Jogja Raya