RADAR JOGJA – Masa kelam sudah dilalui Kepala Dishub Kulonprogo L. Bowo Pristianto. Dinyatakan positif Covid-19 dan sempat dirawat di rumah sakit. Kini ia pun bersedia membagi kisahnya saat dinyatakan positif hingga sembuh seperti saat ini. Optimis untuk sehat kembali adalah salah satu kunci ia bisa lepas dari jeratan virus tersebut.

IWAN NURWANTO, RADAR JOGJA, Kulonprogo

Kisah tersebut berawal pada pertengahan November 2020 lalu. Bowo yang saat itu usai pulang kerja merasakan ada yang tidak beres pada tubuhnya. Badannya lemas disertai pegal pada persendian, kondisinya pun memburuk setelah beberapa hari kedepan. Mulai susah tidur dan terserang demam serta batuk-batuk.

Karena kondisinya tak kunjung membaik, ia kemudian memeriksakan diri ke salah satu RS swasta. Untuk memastikan apa yang salah pada tubuhnya, Bowo kemudian berinisiatif melakukan rapid test antibodi dan hasilnya reaktif. Hasil test swab dari puskesmas di tempat tinggalnya pun sama.

Di tengah kekalutan, Bowo berupaya agar tetap tenang. Ia segera mengontak keluarga dan kerabat serta gugus tugas penanganan covid-19 agar bisa dilakukan penanganan. Ia pun menjalani isolasi di rumah meski akhirnya menjalani perawatan di salah satu RS di Kota Jogja karena kondisinya sempat memburuk.

Bowo menceritakan, bukan hal yang mudah untuk bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit. Sebab dengan banyaknya pasien yang membutuhkan perawatan ia harus rela menunggu di ruang perawatan Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Tepatnya pada hari Selasa, 24 November 2020, karena kondisinya semakin drop. Dengan dibantu keluarga, teman serta saudaranya Bowo kemudian dilarikan ke salah satu rumah sakit dan langsung masuk IGD. “Saya tiba dirumah sakit pukul 11.00 dan pukul 19.30 saya dipindahkan ke bangsal isolasi bagi sahabat – sahabat yang terinfeksi virus korona. Resmi saya menjalani isolasi di rumah sakit, menjadi pasien penderita infeksi virus korona” terangnya Minggu (14/2).

Perasaan takut memang sempat menyelimuti Bowo saat dinyatakan terpapar virus yang entah itu datang dari mana itu. Namun selama menjalani perawatan, perasaan takut itu justru hilang. Hal yang ada dipikirannya saat itu hanya ingin sembuh.

Selama menjalani masa perawatan, Bowo mengakui bahwa komunikasi antara pasien dan perawat adalah hal yang cukup penting. Menurut dia, hal tersebut adalah sesuatu yang mendorongnya untuk bisa mencapai kesembuhan.”Yang ada saat itu tinggal pikiran sembuh. Terlebih ditolong, dilayani dengan penuh perhatian dan kasih para dokter serta perawat sehingga saya menjadi lebih bisa tenang,” ujarnya.

Meskipun demikian, ia mengakui kalau proses perawatan untuk pasien Covid-19 memang bukan hal yang mengenakan. Berkali-kali ia harus menerima suntikan dan wajib mengikuti terapi. Bahkan setelah ia dinyatakan sembuh Belum lagi stigma sosial yang harus dihadapi. Beberapa teman dan sahabat yang kemudian mulai menjauh. Beruntung, selama masa perawatan masih banyak orang peduli dengan memberi dukungan dari berbagai cara. Sehingga bisa menjadi tambahan energi positif baginya.”Selalu saya katakan cukup saya saja yang mengalami. Teman-teman jangan sampai merasakan. Maka selalu waspada, ekstra hati-hati dan selalu patuhi prokes,” ungkapnya.

Setelah menjalani proses yang cukup panjang, Bowo akhirnya dinyatakan sembuh. Rasa optimisme yang tinggi untuk mencapai kesembuhan adalah salah satu hal yang mendorongnya bisa lepas dari virus tersebut.

Bowo kemudian berpesan kepada siapapun agar tetap patuh terhadap prokes. Sebab, virus Covid-19 bisa menyerang siapapun bahkan terhadap orang yang sudah taat prokes sekalipun. Terlebih dengan berbagai dampak sosial dan ekonominya. “Saya mengalami sendiri terinfeksi dan sangat membahayakan jiwa. Belum lagi dari sisi sosial, psikologis dan ekonomi menjadi sangat rumit. Sehingga saya berpesan agar selalu patuh terhadap berbagai imbauan yang berlaku,” pesan Bowo. (pra)

Jogja Raya