RADAR JOGJA – Apakah benar upaya tracing tak maksimal dijalankan Dinkes Kota Jogja? Kepala Dinkes Kota Jogja Emma Rahmi Aryani mengatakan, pelacakan terhadap kasus Covid-19 tidak semua harus melaui pemeriksaan tes swab. Namun, upaya tracing bisa dalam bentuk memeintai keterangan informasi. “Orang itu mungkin ngertine kalau di-tracing ya diperiksa. Tracing itu tidak harus diperiksa,” katanya Minggu (14/2).

Emma menjelaskan upaya tracing bisa saja hanya dimintai informasi atau pertanyaan melalui telepon langsung atau chat Whatsapp. Dimintai informasi tersebut terkait dengan kontak erat pertemuan dengan orang-orang tertentu, gejala-gejala, riwayat, dan lain sebagainya. “Itu kan udah tracing,” ujarnya.
Ketika yang bersangkutan tidak bergejala namum terkonfirmasi positif, maka akan disarankan untuk menjalani isolasi mandiri. Petugas puskesmas akan memantau perkembangan kesehatannya. Pun jika yang bersangkutan tidak bergejala tidak termasuk kategori untuk pemeriksaan swab test. Tetapi, hanya dipantau oleh petugas puskesmas setempat. “Jadi tidak harus kalau lapor kemudian diperiksa. Dan dia (yang terkomfirmasi positif) memang harus lapor ke puskesmas supaya kita tahu untuk permintaan tracing,” tuturnya.

Namun, dia tidak menampik, banyak kasus yang terjadi masyarakat yang terkonfirmasi positif memeriksakan diri secara mandiri tanpa melapor ke Dinkes Kota Jogja. Terlebih lab di puskesmas juga tidak ada laporan ke Dinkes jika terdapat pasien positif memeriksakan secara mandiri. “Harusnya labolatoriumnya melaporkan. Tapi ada yang melaporkan dan ada yang tidak. Ini jadi putus,” sambung mantan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Jogja itu.

Sehingga, upaya tracing saat ini yang dilakukan masih yang berkaitan dengan yang bergejala. Upaya peningkatan testing dan tracing serta pelacakan kontak bakal diperbanyak penggunaan rapid test Antigen. Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/446/2021 tentang Penggunaan Rapid Diagnostic Test Antigen dalam Pemeriksaan Covid-19. “Rapid test antigen untuk tracing sebetulnya dalam proses persiapan. Masih proses sosialisasi karena alatnya juga belum sampai ke Dinkes DIJ,” katanya.

Rapid test antigen, kini sebagai salah satu metode dalam pelacakan kontak, penegakan diagnosis, dan skrining Covid-19 dalam kondisi tertentu. Hal ini dilakukan untu segera memutus mata rantai penularan Covid-19. Menurut info dari Dinkes DIJ a, ada sekitar 21 ribu antigen untuk alokasi 121 puskesmas se-DIJ. “Kemarin menyampaikan baru akan dikirim,” ucapnya.

Dalam satu kasus minimal yang dilakukan tracing dengan Rapid Test Antigen antara 20-30 orang yang memiliki kontak erat. Dari jumlah itu tetap akan difilter apakah hanya akan dipantau, di-test antigen atau bahkan tes swab PCR. “Kriterianya nanti misalnya kontak erat itu dia berkontak lebih dari 15 menit tidak pakai masker, jaraknya kurang dari satu meter dan lain-lain,” terangnya.

Pun petugas tracer yang akan melakukan tracing ini juga baru disiapkan dari puskesmas. Data jumlah tracer yang sudah diusulkan ke satgas pusat Covid-19 sekitar 90 petugas atau tiap puskesmas lima orang. Namun, untuk di kota sendiri petugas yang disiapkan tidak sampai 18 puskesmas se-Kota Jogja. Dan saat ini masih pada tahap pelatihan kepada petugas tracing tersebut. “Harusnya 90 tracer, kami hanya punya 62 karena ya waktunya mepet harus sekrang segera menyerahkan data,” tambahnya. (wia/pra)

Jogja Raya