RADAR JOGJA – Tahun lalu Imlek masih dapat dirayakan dengan gegap gempita di berbagai kota, termasuk Jogja. Sementara tahun ini Imlek harus dirayakan dengan suasana berbeda, lantaran pandemi Covid-19 masih belum berakhir.

“Imlek tahun ini membawa berkah dan berkat bagi kita semua, untuk tabah dan jangan menyerah,” ujar Ketua Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC) Tandean Harry Setio ditemui Radar Jogja Kamis (10/2). Di tahun kerbau logam ini, Harry berharap segenap warga dapat meneladani sifat makhluk tersebut.

Kerbau, digambarkan oleh Harry, mampu bekerja dari pagi sampai sore dan tidak mengeluh. Saat terjatuh, kerbau akan bangkit perlahan. Kerbau pun selalu mengikuti perintah yang diberikan atau digariskan padanya. “Dan jarang sekali ada kerbau itu mengamuk. Kerbau itu luar biasa sekali filosofinya,” sebutnya.
Oleh sebab itu, Harry berharap mampu bertahan dalam situasi yang sulit akibat pandemi Covid-19. Dengan meneladani sifat kerbau yang pekerja keras dan pantang menyerah. Lalu, memanfaatkan daya kreativitas, warga dapat segera bangkit dari keterpurukan.

“Satu arah. Saya berharap masyarakat tidak menyerah. Bersatu padu membangun ekonomi tapi sesuai protokol kesehatan (prokes). Jadi menjaga diri, keluarga, lingkungan, dan ekonomi agar tidak semakin terpuruk. Apalagi tahun ini kerbau logam, seharusnya lebih kuat,” nasihatnya.

Semangat itu juga diterapkan Harry pada JCACC. Di mana organisasi ini tetap mempertahankan tradisi perayaan Imleknya. Namun, kegiatan perayaan tahun ini dilakukan secara virtual. “Supaya kegiatan tetap menyambung dan memberi semangat kepada kita semua untuk tidak menyerah,” cetusnya.

Perayaan akan dilangsungkan selama sepekan dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY), 20-26 Februari. Berbagai kegiatan di bidang budaya, seni, dan ekonomi pun digelar. Seperti webinar terkait sejarah dan budaya Tionghoa di Indonesia yang dapat menghasilkan sebuah akulturasi dan harmonisasi antar berbagai kebudayaan.

Selain itu, PBTY juga menggelar pertunjukan tari dan wayang potehi secara virtual. Diadakan pula cooking class. “Kami ingin mengulas dan mengupas, baik sejarah dan filosofi dalam Tionghoa. Seperti cooking class untuk memperkenalkan kembali jenis masakan tradisional untuk persembahyangan yang mulai pudar. Agar memenuhi prokes, maka kami gelar secara virtual,” paparnya.

Ajak Resapi Sejarah Kembali

Perayaan tahun baru Imlek di masa pandemi Covid-19 seperti sejarah yang berulang. Selama tahun 1968-1999, perayaan Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Sesuai Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala hal berbau Tionghoa.

Dosen Departemen Sejarah FIB UGM Arif Akhyat

Dosen Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM Arif Akhyat menjelaskan, masyarakat Tionghoa yang berada di Jogjakarta seharusnya bisa untuk tidak melakukan perayaan Imlek selama masa pandemi. Masyarakat Tionghoa bisa merayakannya di masing-masing rumah. Hal itu tidak akan mengurangi nilai Imlek itu sendiri.

Merayakan Imlek di rumah, juga sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat lain yang saat ini sedang kolaps akibat pandemi. Hal itu juga bisa menjadi panutan masyarakat lain agar tidak melakukan hal serupa. Seperti mengadakan perayaan yang mengumpulkan banyak individu di ranah publik.
“Selain menjadi contoh agar tidak ada perayaan di ranah publik, perayaan Imlek di rumah bisa menjadi pelajaran bahwa orang Tionghoa mampu melakukan domestikasi Imlek pada ranah yang terbatas,” jelas Akhyat kepada Radar Jogja.

Dalam konteks tradisi Tionghoa, kata Akhyat, tahun baru Imlek adalah perayaan musim semi. Menunjukkan awal untuk melakukan masa tanam di sistem agraria orang Tionghoa. Dilatarbelakangi adanya mitos hewan Nian, yang dianggap menggangu manusia. Dan merusak tanaman serta hewan yang ada di daratan Tiongkok.

Namun hewan Nian mampu diusir dengan suasana yang ramai dan hiasan berwarna merah khas perayaan Imlek. Jika beranalog pada tradisi Tionghoa mengusir hewan Nian, hal ini serupa dengan adanya pandemi Covid-19. “Bagaimana orang Tionghoa mengusir atau minimal ada batasan agar tidak terkena Covid-19,” kata Akhyat.

Imlek adalah tradisi yang bersifat masal dan melibatkan banyak orang. Terlebih saat perayaan Cap Go Meh yang dilakukan tiap tanggal 15 pada bulan pertama penanggalan Tionghoa. Perayaannya akan diawali dengan berdoa di wihara, dilanjutkan iringan kenong dan simbal, dan adanya pertunjukan barongsai. Perayaan itu harus melibatkan banyak orang. (fat/eno/laz)

Jogja Raya