RADAR JOGJA – Kebijakan pemerintah dalam menekan kasus persebaran Covid-19 berdampak minimnya kunjungan wisata. Belum ada upaya signifikan dalam pemulihan ekonomi pariwisata. Seperti halnya mengubah pangsa pasar dari kunjungan langsung menjadi plat from digital.

“Kami belum bisa membayangkan mengarah ke sana. Yang namanya wisata kan tidak hanya dinikmati secara visual, tapi secara langsung di lokasi,” ungkap Kepala Bidang Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sleman Aris Herbandang di kantornya, Selasa (9/2).

Pihaknya mendorong agar pengelola wisata mengemas wisata dengan cara storytelling mengenai destinasi masing-masing menjadi digital visual. Namun secara kunjungan masih mengedepankan ke lokasi langsung.

Disebutkan, selama pandemi tidak ada pariwisata yang ditutup, kecuali di zona bahaya radius lima kilometer dari puncak Merapi. Lainnya diizinkan dibuka, namun sesuai standar protokol kesehatan Covid-19.

Melengkapi fasilitas cuci tangan, memakai masker, jaga jarak dan mengukur suhu tubuh. Serta mengurangi 50 persen kapasitas pengunjung. Sebagaimana Instruksi Gubernur DIJ terkait Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) Mikro.

Terkait kebijakan ini, pengelola wisata diimbau melakukan pendataan identitas setiap pengunjung. Untuk mengantisipasi apabila ditemui persebaran Covid-19. Selain itu mempermudah tracing terhadap pengunjung. “Sudah ada aplikasi khusus yang terhubung dengan kami,” bebernya. Sedangkan untuk kunjungan hotel, tamu hotel wajib melaporkan hasil rapid test atau swab antigen.

Demikian juga bagi pelaku perjalanan menuju DIJ juga akan dilakukan pemantauan. Pemantauan di Kabupaten Sleman dilaksanakan di dua titik, di wilayah perbatasan. Yakni Jalan Magelang tepatnya di Tempel, dan Jalan Jogja-Solo tepatnya di Prambanan. “Detailnya seperti apa, konfirmasi Dishub DIJ,” ujar Plt Dinas Perhubungan Sleman Arip Permana. (mel/laz)

Jogja Raya