RADAR JOGJA – Stasiun Kilmatilogi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (Staklim BMKG) DIJ memprakirakan intensitas hujan di Jogjakarta tinggi dalam beberapa hari kedepan.

Terlebih puncak musim penghujan diprediksi berlangsung hingga pertengahan Februari. Curah hujan cenderung merata hampir di seluruh wilayah Jogjakarta.

Kepala Staklim BMKG DIJ Reni Kraningtyas tak menampik kondisi ini bisa menimbulkan potensi bahaya. Baik bahaya hujan disertai angine kencang maupun banjir. Potensi cuaca ekstrem bisa terjadi sewaktu-waktu.

“Berdasarkan analisis kami, terjadi dinamika atmosfer yang tidak stabil dalam beberapa hari ke depan. Imbas dari fenomena alam ini adalah potensi pertumbuhan awan hujan atau cumolonimbus cukup merata di seluruh Jogjakarta,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (10/2).

Penyebab dari kondisi ini sendiri adalah munculnya pusat tekanan rendah di Australia bagian utara. Masih ditambah dengan kemunculan sirkulasi siklonik di barat Sumatera Utara dan timur Kalimantan. Kombinasi ini membentuk daerah perlambatan kecepatan angin atau konvergensi.

“Konvergensi ini memanjang di perairan selatan Pulau Jawa termasuk perairan selatan Jogjakarta. Sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Jogjakarta,” katanya.

Staklim BMKG memprediksi kondisi ini bisa bertahan hingga 7 hari kedepan. Hujan terjadi dengan intensitas lebat yang disertai kilat dan angin kencang. Apabila muncul potensi bahaya maka Staklim BMKG menerbitkan peringatan dini.

Potensi hujan lebat di Kabupaten Sleman meliputi Kapanewon Turi, Pakem, Cangkringan, Tempel, Sleman, Ngaglik, Ngemplak, Minggir, Seyegan, Godean, Mlati, Gamping, Depok, Kalasan, Berbah, Prambanan dan Kapanewon Moyudan.

Potensi hujan lebat di Kabupaten Gunungkidul meliputi Kapenewon Gedangsari, Patuk, Ponjong, Karangmojo, Wonosari, Playen, Patuk, Panggang, Purwosari, Paliyan, Saptosari, Tanjungsari, Tepus, Semanu, Rongkop dan Kapanewon Girisubo.

Untuk Kabupaten Bantul sendiri meliputi Kapenewon Srandakan, Sanden, Kretek, Banguntapan, Piyungan, Pleret, Dlingo, Imogiri, Jetis, Pundong, Bantul, Bambanglipuro, Pandak dan Kapanewon Pajangan.

Potensi hujan lebat di Kabupaten Kulonprogo meliputi Kapenewon Temon, Wates, Panjatan, Kokap, Galur, Lendah, Pengasih, Samigaluh, Nanggulan, Sentolo dan Kapanewon Kalibawang.

“Kota Jogja meliputi Kecamatan Umbulharjo, Kotagede, Mergangsan, Pakualaman, Gondokusuman, Danurejan, Gondomanan, Kraton, Gedongtengen, Ngampilan, Wirobrajan, Mantrijeron, Tegalrejo dan Jetis,” ujarnya.

Atas potensi hujan lebat ini, Reni mengimbau warga tetap waspada. Mulai dari tidak berteduh di sembarang tempat saat hujan. Selalu memeriksa kondisi drainase hingga hunian. Langkah ini sebagai antisipasi bahaya primer maupun sekunder dari curah hujan tinggi.

“Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah masing-masing wilayah atas potensi bahaya hidrometeorologi.

Kondisi yang kerap terjadi tak hanya banjir tapi juga longsor di sejumlah perbukitan.  Lalu untuk Merapi adalah potensi lahar hujan apabila di puncak terjadi hujan deras,” katanya.(dwi/sky)

Jogja Raya