RADAR JOGJA – Gubernur DIJ, Hamengku Buwono (HB) X kembali menyapa masyarakat melalui sesi Sapa Aruh Jaga Warga secara virtual, di Bangsal Kepatihan, Selasa (9/2).

Dalam kegiatan menyapa warga kali ini, HB X terfokus pada peran penting rukun tetangga (RT) dalam penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Terutama antisipasi penularan di lingkungan keluarga dan tetangga.

Untuk kali ini Pemprov DIJ mengusung penuh konsep kebijakan pemerintah pusat. Berupa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro. Dalam kebijakan tersebut, lingkup RT dan dusun memiliki peran yang lebih penting.

“Kebijakan ini berlaku hingga 22 Februari 2021. Saya mengimbau warganya bergotong-royong, bersama berupaya menekan penularan Covid-19 khususnya di tingkat keluarga dan tetangga,” jelasnya.

Sapa Aruh diawali dengan pemaparan penanganan Covid-19 dalam setahun belakangan. Faktanya angka penularan masih sangat tinggi. Bahkan melonjak dalam kurun waktu dua bulan belakangan.

HB X memandang kebijakan pemerintah sejatinya adalah sebatas regulasi. Peran utama justru berada di masyarakat. Tak hanya memandang kebijakan sebagai aturan tapi demi kebaikan bersama.

“Demikian juga, penanganan terhadap pandemi Covid-19. Hampir setahun kita terganggu oleh penularannya, tapi dalam kenyataan sehari-hari kita belum disiplin mematuhi aturannya. Meski sudah dimulai vaksinasi massal untuk meningkatkan kekebalan tubuh, tidak berarti boleh abai-aturan,” katanya.

HB X mengingatkan kembali atas pentingnya protokol kesehatan. Dalam catatannya, kebijakan ini paling kerap terabaikan. Terutama jaga jarak aman, menghindari kerumunan, dan hanya keluar rumah jika memang perlu.

HB X juga meminta warga menjauhi interaksi dengan orang lain. Meski di rumah pun tetap mengenakan masker, karena kini penularannya sudah menjalar antar anggota keluarga dan dengan tetangga. Gerakan ini untuk membangun keluarga yang tangguh pandemi.

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini juga mengajak seluruh otoritas mendayagunakan seluruh sumberdaya. Mulai dari rekruitmen tenaga tambahan kesehatan, pemanfaatan sumber dana, sarana pendukung untuk isolasi mandiri dengan alih fungsi hotel. Hingga penggunaan teknologi tepat guna dan berbiaya murah, seperti GeNose C19.

“Lalu, bagaimana agar masyarakat lebih mematuhi PTKM, saya mengandalkan pada ketangguhan RT/Dusun sebagai basis ketahanan sosial. Sebagai satuan komunitas sosial terkecil akan lebih sederhana dan relatif mudah dalam pelaksanaannya. Karena, saya anggap komunitasnya masih berpegang pada kearifan lokal sebagai dasar tindakan,” ujarnya.

Mengingat kondisi pandemi Covid-19 kian meluas, warga, lanjutnya, perlu memberdayakan diri dengan sistem kelompok Jaga Warga. Diperlukan kesigapan setiap warga dengan penanganan yang cepat dan tepat. Fokusnya untuk memutus rantai penularan Covid-19 dan mencegah jatuhnya korban.

“Pakai masker bukan karena takut didenda, jaga jarak bukan karena menghindari teguran, dan sering cuci tangan bukan karena disuruh, tapi supaya jangan tertular,” pesannya.(dwi/sky)

Jogja Raya