RADAR JOGJA – Kampanye untuk mendatangkan wisatawan ke Jogja dirusak perilaku Jogoboro di Malioboro. Petugas Jogoboro dilaporkan melakukan cat calling atau godaan verbal ke pengunjung wanita di Malioboro. Sebagai sanksi pelaku dihukum push up dan membuat surat pernyataan.

Perilaku Jogoboro tersebut diketahui dari cuitan akun Twitter @RallaLembayung. Pemilik akun tersebut merasa ngeri pada saat itu dengan petugas Jogoboro. Karena, ada oknum yang menggoda salah satunya dengan pakaian yang dikenakan. Dan juga melakukan pengecekan suhu tubuh berulang kali sembari berucap sesuatu yang bertujuan menggoda. “Tu suhunya 37 derajat bahaya harus dibawa ke puskesmas. Rumahnya di mana? Dekat sama rumah saya itu,” katanya pada tulisan yang diposting tersebut yang menyebut juga merasa was-was di Malioboro.

Tak hanya sekali, dalam cuitan pada Sabtu (6/2) pukul 18.29 ttersebut dia menyebut dihentikan kembali petugas Malioboro di spot yang berbeda. Awalnya petugas menegur karena membuka masker, tapi kemudian ada ucapan, “Eh tu kok udelnya keliatan.”

Ketika dikonfirmasi Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Ekwanto mengatakan, sangat menyayangkan. Dia mengklaim, baru pertama terjadi sepanjang Jogoboro bertugas. Biasanya pelanggaran yang terjadi hanya memainkan ponselnya di tengah keramaian. “Dan pelanggaran itu cukup mendapat pembinaan saja,” kata mantan Kepala UPT Malioboro itu.

Maka petugas Jogoboro yang melanggar itu langsung pembinaan. Dari postingan akun Twitter @UPTMalioboro Minggu (7/2) pukul 13.28, di-posting lima petugas yang dihukum push up dan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi hal yang sama lagi. “Kami juga mohon maaf mungkin dari Jogoboro ada yang kurang pas dan sudah kami ambil tindakan untuk pembinaan,” sambungnya. Meskipun begitu di jagat maya masih banyak yang belum puas dengan hukuman yang diberikan.

Ekwanto menambahkan, pada dasarnya petugas Jogoboro yang di lapangan harus mengikuti beberapa aturan dan prosedur yang berlaku. Sebab, disamping bertugas, mereka juga dituntut menjadi contoh kepada para pengunjung. Diantaranya, harus melayani pengunjung dengan sikap sopan santun, tidak sembarangan meludah, dan merokok, memainkan ponsel saat bertugas serta beberapa lainnya. “Sopan santun dalam bertutur kata dan segi sikap juga harus dijaga. Paling penting mengarahkan kepada pengunjung dengan lebih sopan,” jelas mantan Lurah Prawirodirjan itu.

Pun tidak menutup kemungkinan, jika yang bersangkutan mengulangi hal yang sama. Tidak segan-segan akan dipecat dari profesinya sebagai Jogoboro. Pemecatan, setelah melalui tiga kali surat peringatan jika masih melakukan pelanggaran yang sama. “Karena ada peringatan satu dua tiga. Sampai ketiga kalau diulangi bisa dipecat,” imbuhnya.

Sementara itu, anggota Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Jogja Baharudin Kamba meminta, jika terbukti maka sanksi tegas berupa dapat Surat Peringatan layak diberikan kepada sejumlah oknum Jogoboro Malioboro yang melakukan hal yang tidak perlu dilakukan terhadap pengunjung Malioboro.

Forpi Kota Jogja berharap kepada UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya untuk senantiasa melakukan pembekalan kepada seluruh petugas Jogoboro. “Apabila diperlukan evaluasi atas sistem rekrutmen terhadap petugas Jogoboro.Evaluasi ini dilakukan agar sikap, perilaku dan pelayanan yang diberikan petugas Jogoboro lebih baik kepada para wisatawan yang ada di Malioboro,” tegasnya. (wia/pra)

Jogja Raya