RADAR JOGJA – Kerusakan pelataran manhole cover saluran ducting yang terjadi di area penataan Tugu Pal Putih, mulai diperbaiki. Namun Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Jogja meragukan perbaikan itu masih bersifat sementara.

Anggota Forpi Kota JogjaBidang Pemantauan dan Investigasi Baharuddin Kamba mengatakan, sejumlah pekerja telah memperbaiki kerusakan salah satu manhole cover yang rusak terbelah dua dengan cara dilas. “Itikad baik dari penyedia jasa atau kontraktor layak diapresiasi,” katanya Jumat (5/2).

Kamba menjelaskan, hingga saat ini proyek itu masih dalam pemeliharaan dari penyedia jasa atau kontraktor. Sehingga segala kerusakan yang ditimbulkan masih menjadi tanggungjawabnya untuk memperbaiki.

Berdasarkan informasi dari pelaksana proyek penataan kawasan Tugu Pal Putih, Kamba menyampaikan beton cor besi yang rusak itu sementara dilas lebih dulu untuk penanganan sementara. Ini karena masih menunggu produksi manhole cover di daerah Klaten, Jawa Tengah. “Tadi katanya waktu produksi manhole cover yang baru kurang lebih satu bulan,” ujarnya.

Namun demikian, perbaikan dengan cara dilas dan hanya bersifat sementara itu dikhawatirkan akan rusak lagi. Mengingat intensitas pengguna roda dua dan empat bahkan lebih, akan cukup tinggi yang melintas di pelataran Tugu Pal Putih.

“Maka ini perlu ada pengawasan dari pengawas proyek supaya dapat memastikan manhole cover yang dilas itu tidak mengalami kerusakan lagi dan aman untuk dilewati kendaraan apa pun,” jelasnya.
Hal itu penting agar manhole cover yang sudah dilas tidak membahayakan bagi pengguna jalan. Demikian pula perlu adanya pengawasan atas proyek penataan kawasan Tugu senilai Rp 9,5 miliar yang dibiayai dari dana keistimewaan (danais) ini.

Meskipun hingga saat ini masih menjadi tanggung jawab penyedia jasa atau kontraktor dalam rangka masa pemeliharaan. Namun fungsi pengawasan, baik dari eksekutif maupun kalangan legislatif juga perlu dijalankan semaksinal mungkin. “Dalam hal ini Komisi C DPRD Kota Jogja, agar fungsi semua pengawasan berjalan efektif,” tambahnya.

Sekretaris Komisi C DPRD Kota Jogja Sigit Wicaksono mengatakan, kontraktor harus bertanggung jawab atas kerusakan itu. Terlebih selama enam bulan pemeliharaannya masih menjadi kewenangan kontraktor.
“Walaupun waktu pekerjaan terbatas, seharusnya itu bukan menjadi alasan. Karena wilayah Tugu merupakan kawasan strategis dan masuk dalam cagar budaya. Jadi proses pekerjaannya harus mempertimbangkan kondisi faktual di kawasan itu,” katanya.

Termasuk kondisi lalu lintas yang tergolong cukup ramai dilalui kendaraan. Apalagi jika diukur pada kondisi pandemi seperti saat ini, beban lalu lintas di sana dipastikan tidak seramai saat kondisi normal. “Nah itu saja sudah terjadi kerusakan. Padahal baru dua bulan diresmikan. Saya prihatin proyek miliaran rupiah menjadi sorotan,” cetusnya.

Maka pengawasan yang dilakukan pemerintah juga patut dipertanyakan. Selain meminta pertanggungjawaban dari kontraktor, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait juga bakal dimintai klarifikasi. Jangan sampai ada konstruksi yang tidak sesuai spesifikasi pekerjaan, sehingga merugikan masyarakat luas.
“Itu bisa diaudit dan jadi masukan bagi kami untuk menggelar rapat dengan mitra kerja. Tugu sampai Alun-Alun Utara itu jadi ikon. Sedikit saja ada kerusakan, maka langsung menjadi sorotan,” tambah Sigit.

Saat dikonfirmasi, pimpinan PT Sari Gunung Mataram Sakti Nanang Sukrisno selaku pihak ketiga proyek penataan kawasan Tugu mengklaim, kerusakan itu bukan disebabkan karena spesifikasi bahan baku, melainkan karena traffic yang padat dan usia kontruksi beton. “Karena waktunya juga mepet, ibarat belum umurnya atau belum jatahnya dibuka, tapi harus sudah dibuka karena untuk traffic. Kendala kami di awal itu, jadi betonnya belum mateng,” katanya.

Dikatakan, seharusnya 14 hari baru boleh dilewati. Tapi karena baru satu minggu terus sudah kami buka, resikonya seperti itu. “Makanya ini yang kita perbaiki. Sekarang akan kami sesuaikan dengan umur beton, nanti 14 hari tidak boleh diinjak dulu untuk traffic,” jelasnya.

Meski begitu, pihak penyedia jasa langsung kooperatif menyikapi kerusakan di kawasan Tugu. Dalam masa pemeliharaan enam bulan ini masih menjadi kewajiban penyedia jasa. Manakala ada kerusakan lain yang timbul siap bertanggung jawab, bahkan sampai melewati batas waktu pemeliharaan.

“Iya kami siap bertanggungjawab ketika ada lagi kerusakan atau pekerjaan lain selain pekerjaan di simpang Tugu. Makanya ini kuncinya pada pengunci dudukan. Ketika itu sudah kuat, insya Allah semuanya akan aman karena pengunciannya pecah dan bergerak jadi seperti dibanting-banting,” terangnya.
Menurutnya, penataan kawasan Tugu yang memakan waktu kurang lebih tiga bulan itu dirasa sangat singkat. Namun demikian, optimalisasi pekerjaan tetap dilakukan sesuai durasi dan target. (wia/laz)

Jogja Raya