RADAR JOGJA – Pemberangkatan haji tahun ini belum ada kejelasan. Sebanyak 927 jamaah nasibnya menggantung. Hal itu berdampak pada calon jamaah tunggu yang jumlahnya mencapai 25 ribu orang.

“Daftar tunggu dari tahun 2021-2049 otomatis mundur,” sebut Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Bantul, Ahmad Mustafid dihubungi Jumat (5/2).

Pandemi Covid-19, sebut Ahmad, membuat pemberangkatan haji 2020 tertunda. Pemberangkatannya dijadwalkan tahun ini. Hanya, Kementerian Agama Bantul masih belum mendapatkan kejelasan.

Sampai dengan kemarin, pihaknya belum mendapat kepastian MoU antara Pemerintah Indonesia dan Kementerian Haji Arab Saudi. Padahal, pada kondisi normal, pertengahan Januari sudah diterima penjadwalan. ”Jadi tahun ini diberangkatkan atau tidak, kami belum bisa menjawab,” jelasnya.

Calon jamaah haji yang sudah melunasi biaya pemberangkatan haji 2020 akan diprioritaskan. Jadi, bila tahun ini ada pemberangkatan haji, maka tahun kemarin menjadi prioritas. Meskipun bergantung pada kuota yang diberikan Arab Saudi. “Bantul ada 927 pelunasan pada 2020. Tapi kami mendapat instruksi, kuota haji, apakah diperjalankan 100 persen atau 50 persen, terbatasi umur, dan seterusnya,” ujarnya.

Untuk itu, Kanwil Kemenag Bantul belum melakukan pemanggilan dan menanyakan pelunasan pada calon jamaah haji 2021. Kendati begitu, pihaknya tetap melakukan persiapan. Pihaknya pun tetap bekerjasama dengan lembaga terkait, seperti kesehatan dan imigrasi untuk menyiapkan jamaah.
”Hari ini (kemarin, Red), kami mendampingi jamaah yang paspornya akan berakhir 14 Februari 2022. Jadi kami damping untuk perpanjangan, atau membuat paspor baru,” ucapnya.

Selain itu, kanwil tetap melakukan bimbingan yang digelar setiap Jumat secara virtual. Meskipun saat ini Indonesia masuk dalam daftar negara yang belum boleh masuk ke tanah suci. ”Termasuk Jemaah umrohnya,” kata dia.
Terpisah, calon jamaah haji terjadwal berangkat tahun 2021 yang enggan namanya dikorankan menyebut, dia sudah menduga pemberangkatannya ditunda. Ibu dua orang anak ini sudah mendaftarkan diri sejak 2013. Namun, mengaku memang belum diminta untuk melunasi pembayaran haji. “Pelunasan biasanya mendekati keberangkatan, karena disesuaikan dengan kurs,” tuturnya.

Saat ini dia sudah tergabung dalam WhatsApp Group (WAG) dan mengetahui rekan satu kelompok yang akan berangkat bersamanya kelak. Dia pun mengaku sudah menerima materi bimbingan haji, kendati hanya virtual. “Jadi kami bimbingannya selama masa pandemi ini berhenti, artinya jalan tapi hanya melalui WA saja. Jadi pembimbing memberikan informasi mengenai kajian, tata cara, dan rukun haji. Kalau praktik belum ada. Karena yang tahun 2020 saja, prakteknya berhenti,” ujarnya. (fat/bah)

Jogja Raya