RADAR JOGJA – Lapangan Karang di Prenggan, Kotagede bakal dibangun menjadi stadion mini. Direncanakan khusus untuk sepakbola. Sosialisasi belum dilakukan. Tapi masyarakat setempat mendukung adanya penataan asal bisa bermanfaat untuk warga sekitar.

Seorang Pedagang Kaki Lima (PKL) di Lapangan Karang Kotagede Anto mengaku telah mengetahui informasi bakal dibangunnya Lapangan Karang menjadi khusus lapangan sepakbola. Informasi yang beredar di warga, nantinya di sana jadi stadion latihan bagi PSIM Jogja. “Pedagang manut-manut saja sing penting kami difasilitasi untuk jualan,” katanya kepada Radar Jogja di Lapangan Karang Rabu (3/1).

Mereka pun memberikan syarat, Lapangan Karang masih tetap bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk beraktivitas. Bukan hanya untuk kepentingan satu kelompok tertentu saja. “Kalau dibangun ditata saya setuju, asal yo migunani nggo masyarakat jangan untuk PSIM tok. Nek mung dinggo PSIM saja saya tidak setuju betul-betul nggak setuju,” cetus warga Prenggan, Kotagede itu.

Sebelumnya, pria 55 tahun itu telah mendapat penjelasan terkait hendak dibangunnya Lapangan Karang oleh jajaran pemkot. Itu setelah ada kekhawatiran para pedagang tidak bisa berjualan lagi, setelah mendengar isu bahwa Lapangan Karang akan dibangun. Sehingga mereka mendatangi kalangan legislatif untuk mengadu. “Wakil dari PKL dipanggil ke pemkot November diperlihatkan gambar-gambar dan rencana pembangunan. Sampai akhirnya kami dapat fasilitas tempat kuliner,” ujarnya.

Meskipun begitu, dia masih mempertanyakan, apakah nantinya di Lapangan Karang masih bisa digunakan untuk kegiatan lain. Di antaranya untuk lokasi kesenian atau ibadah salat Ied. “Katanya enggak boleh, karena rumputnya mahal, itu susah karena lapangan Karang selalu dipakai Salat Ied,” sambungnya.

Namun demikian, pedagang di sana menginginkan tetap mengunggulkan ciri khas lapangan Karang Kotagede manakala hendak dibangun. Lantaran, lapangan Karang selalu menjadi ikon maupun mata pencaharian pedagang sekitar. Terlebih, pedagang tongseng ayam kampung dan sate kambing itu mengklaim lapangan Karang menjadi satu-satunya ruang publik di Kotagede dan tempat wisata keluarga sembari berkuliner. “Pikiran bunek saja di lapangan Karang bisa pudar ada inspirasi. Karena sejuk, banyak orang beraktifitas,” jelas pedagang yang sudah 25 tahun berjualan di Lapangan Karang.

Mantan Ketua Paguyuban Pedagang Unit Golek Duwit (UGD) Lapangan Karang itu, sekitar 50 PKL siang dan malam rerata sudah berjualan berkisar puluhan tahun. Terdiri dari pedagang sate sapi, bakmi jawa, pecel lele, wader goreng, belut goreng, mie ayam, dan lain-lain.

Anggota Komisi C DPRD Kota Jogja Hasan Widagdo, saat melakukan reses di sana pun banyak mendapat pertanyaan dari warga. Menurut dia, mayoritas warga tidak ingin kehilangan area publik di Lapangan Karang. Apalagi di kawasan Kotagede termasuk minim area publik. Selama ini, tambah dia, di sana juga dipakai untuk kegiatan keagamaan, kesenian hingga sosial. “Warga setuju, hanya jangan menghilangkan fungsi sosial Lapangan Karang,” tuturnya.

Politisi dari dapil V Kotagede dan Umbulharjo itu juga mempertanyakan belum adanya sosialasi ke masyarakat saat penyusunan detail engineering design (DED) pembangunan Lapangan Karang. Karena itu dia meminta Kemantren Kotagede untuk memfasilitasi pertemuan dengan masyarakat. Termasuk penyesuaian DED dengan aspirasi warga. “Sebelum dilelangkan di ULP (unit layanan pengadaan) harus dicek dulu adakah perubahan DED,” kata politisi PPP itu.

Hasan juga menyebut, proses penyusunan DED dan penganggaran yang dilakukan bersamaan. Informasi yang diterimanya anggaran dari APBD Kota Jogja 2021 awalnya Rp 10 miliar. Kemudian turun menjadi Rp 7,5 miliar. “Meski itu boleh dalam aturannya,” ungkapnya.

Terpisah, Mantri Pamong Praja, Kemantren Kotagede, Rajwan Taufiq mengatakan, Lapangan Karang sampai saat ini masih sering dimanfaatkan untuk aktifitas anak-anak bermain layangan, sepakbola, olahraga sekolah, aktifitas kegiatan masyarakat maupun aktifitas kegiatan kuliner. Terkait pembangunan, wilayah masih menunggu Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) yang memiliki kegiatan untuk menjadwalkan sosialisasi ke masyarakat. “Itu kan ranahnya PU (DPUPKP), tapi dari wilayah belum mulai sosialisasi ke warga,” katanya.

Meski demikian, ketika Lapangan Karang sudah dibangun dan ditata diharapkan tetap bisa digunakan oleh masyarakat sekitar untuk beraktifitas. “Harapan kami kan yang selama ini menggunakan tetap bisa menggunakan, gitu aja,” ujar mantan Sekretaris Camat Ngampilan itu.

Ketika dikonfirmasi, Kepala DPUPKP Kota Jogja, Hari Setyawacana belum bisa menjelaskan terkait rencana pembangunan Lapangan Karang tersebut. “Pangapunten besok njih. Iya sampun (DED-nya),” katanya melalui aplikasi Whatsapp.

Sedang Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jogja Agus Tri Haryono menyebut, pertimbangan penataan Lapangan Karang karena tempat-tempat untuk berolahraga di Kota Jogja sangat terbatas. Bahkan hampir tidak ada. “Tempat-tempat untuk olahraga kan terbatas hampir enggak punya. (Stadion) Mandala Krida punya provinsi, maka kami akan bangun salah satunya di situ (Lapangan Karang) supaya kota itu juga punya tempat olahraga,” tuturnya. (wia/pra)

Jogja Raya